Beberapa Kemajuan Penerapan Bidang Bioteknologi Pada Tanaman

Awang Maharijaya

PENDAHULUAN

Dewasa ini, teknik-teknik bioteknologi tanaman telah dimanfaatkan terutama untuk memberikan karakter baru pada berbagai jenis tanaman.  Penekanan pemberian karakter tersebut dapat dibagi kedalam beberapa tujuan utama yaitu peningkatan hasil, kandungan nutrisi, kelestarian lingkungan, dan nilai tambah tanaman-tanaman tertentu. Sebagai contoh, beberapa tanaman transgenik yang dikembangkan adalah:

  1. Peningkatan kandungan nutrisi: Pisang, cabe, raspberries, stroberi, ubi jalar
  2. Peningkatan rasa: tomat dengan pelunakan yang lebih lama, cabe, buncis, kedelai
  3. Peningkatan kualitas: pisang, cabe, stroberi dengan tingkat kesegaran dan tekstur yang meningkat
  4. Mengurangi alergen: polong-polongan dengan kandungan protein allergenik yang lebih rendah
  5. Kandungan bahan berkhasiat obat: tomat dengan kandungan lycopene yang tinggi (antioksidan untuk mengurangi kanker), bawang dengan kandungan allicin untuk menurunkan kolesterol, padi dengan kandungan vitamin A dan besi untuk mengatasi anemia dan kebutaan,
  6. Tanaman untuk produksi vaksin dan obat-obatan untuk mengobati penyakit manusia
  7. Tanaman dengan kandungan nutrisi yang lebih baik untuk pakan ternak
  8. dan lain-lain

 Selain itu, pemanfaatan bioteknologi tanaman seperti rekayasa genetika juga dapat memudahkan petani dalam budidaya tanaman. Misalkan dalam pengendalian gulma yaitu dengan menghasilkan tanaman yang memiliki ketahanan terhadap jenis herbisida tertentu. Sebagai contoh adalah Roundup Ready yang terdiri dari kedelai, canola dan jagung yang tahan terhadap herbisida Roundup. Di dunia saat ini telah banyak dilepas berbagai tanaman transgenik.  Sebagai contoh, di Asia yaitu di China pada tahun 2006 saja, telah telah ada sekitar 30 spesies tanaman transgenik, antara lain padi, jagung, kapas, rapeseed, kentang, kedelai, poplar, tomat (delay ripening dan ketahanan virus), petunia (warna bunga), paprika (virus resistance), kapas (ketahanan hama) yang telah dilepas untuk produksi.     

Kemajuan dan penerapan bioteknologi tanaman pada tanaman pangan 

Kemajuan dan penerapan bioteknologi tanaman tidak terlepas dari tanaman pangan.  Untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia termasuk kebutuhan nutrisi, kemajuan bioteknologi telah mewarnai trend produksi pangan dunia.   Padi saat ini masih merupakan tanaman pangan utama dunia.  Dengan demikian prioritas utama untuk teknik biologi molekuler dan transgenik saat ini masih diutamakan pada padi. Selain karena merupakan tanaman pangan utama, padi  memiliki genom dengan ukuran sehingga dapat digunakan sebagai tanaman model utama.  Selain padi tanaman pangan yang telah banyak mendapat sentuhan bioteknologi adalah kentang.  

Golden Rice

Penerapan bioteknologi pada tanaman padi sebenarnya telah lama dilakukan namun menjadi sangat terdengar ketika muncul golden rice pada tahun 2001 yang diharapkan dapat membantu jutaan orang yang mengalami kebutaan dan kematian dikarenakan kekurangan vitamin A dan besi.  Vitamin A sangat penting untuk penglihatan, respon kekebalan, perbaikan sel, pertumbuhan tulang, reproduksi, hingga penting untuk pertumbuhan embrionik dan regulasi gen-gen pendewasaan.   

Luasan lahan pertanian yang semakin sempit mengakibatkan produksi perlahan harus ditingkatkan.  Peningkatan ini tidak hanya berupa peningkatan bobot panen namun juga nutrisi atau nilai tambah. Oleh sebab itu dari suatu luasan yang sebelumnya hanya menghasilkan karbohidrat diharapkan dapat ditambah dengan vitamin dan mineral.  Hal inilah yang mendorong para peneliti padi mengembangkan Golden Rice.  Pada awalnya penelitian dilakukan untuk meningkatkan kandungan provitamin A berupa beta karoten, dan saat ini fokus penelitian tetap dilakukan. 

Nama Golden Rice diberikan karena butiran yang dihasilkan berwarna kuning menyerupai emas (Gambar 1).  Rekayasa genetika merupakan metode yang digunakan untuk produksi Golden Rice.  Hal ini disebabkan karena tidak ada plasma nutfah padi yang mampu untuk mensintesis karotenoid.  Pendekatan transgenik dapat dilakukan karena adanya perkembangan teknologi transformasi dengan Agrobacterium dan ketersediaan informasi molekuler biosintesis karotenoid yang lengkap pada bakteri dan tanaman.  Dengan adanya informasi tersebut terdapat berbagai pilihan cDNA.  Produksi prototype Golden Rice menggunakan galur padi japonica (Taipe 309), teknik transformasi menggunakan agrobacterium dan  beberapa gen penghasil beta karoten tanaman daffodil hingga bakteri.   

<maaf belum sempat>

Gambar 1.  Golden Rice. (a) padi tipe liar; (b) Golden Rice 1, mengekspresikan phytoene synthase daffodil dan CRTI, (c) Golden Rice 2, mengekspresikan phytoene synthase jagung dan CRTI (Al-Babili dan Beyer, 2005)  

Bioteknologi Tanaman Kentang

Tanaman pangan dunia yang tidak kalah penting adalah kentang.  Seperti halnya padi, kentang juga menjadi komoditas utama yang menjadi obyek penerapan bioteknologi tanaman.  Teknik bioteknologi saat ini telah banyak digunakan dalam produksi kentang.  Baik dalam teknik penyediaan bibit, pemuliaan kentang, hingga rekayasa genetika untuk meningkatkan sifat-sifat unggul kentang.  Dalam hal penyediaan bibit, saat ini teknik kultur jaringan telah banyak digunakan.  Teknik kultur jaringan memungkinkan petani mendapatkan bibit dalam jumlah besar yang identik dengan induknya (Gambar 2). 

Teknik kultur jaringan juga dapat digunakan untuk menghasilkan umbi mikro (microtuber) (Gambar 3).  Produksi kentang dari umbi mikro dan umbi konvensional menurut penelitian tidak berbeda nyata.  Gambar 2.  Skema produksi bibit kentang melalui teknik kultur jaringan  Gambar 3.  Umbi mikro kentang Selain itu teknik kultur jaringan pada tanaman kentang juga bermanfaat terutama untuk preservasi in vitro, fusi protoplas dan membantu dalam seleksi pada skema pemuliaan tanaman.   Pemuliaan kentang dilakukan untuk meningkatkan sifat-sifat unggul dan menambah sifat baru sesuai kondisi yang diharapkan. Salah satu kendala utama produksi kentang adalah serangan penyakit yang tinggi sehingga pemuliaan kentang sering diarahkan untuk meningkatkan tingkat ketahanan tanaman terhadap penyakit.   Jika dilakukan secara konvensional diperlukan sedikitnya 15 tahun untuk menghasilkan kultivar baru.  Hal ini terjadi karena kentang komersial pada umumnya adalah tetraploid sehingga persilangan kentang akan menghasilkan keragaman yang sangat tinggi.  Untuk mengatasi permasalahan ini teknik seleksi awal dengan teknik in vitro telah dilakukan serta dapat juga dilakukan melalui marker assisted breeding  (MAS).  Untuk meningkatkan sifat ketahanan dan sifat lain pendekatan rekayasa genetika juga telah dilakukan melalui fusi protoplast dan tranformasi genetik. 

Contoh pemanfaatan teknik transformasi agrobacterium pada tanaman kentang adalah dengan menyisipkan gen dari spesies liar yaitu Rpi-blb, Rpi-blb2 yang dapat meningkatkan ketahanan terhadap Phytopthora infestans (Gambar 4).  Kentang tersebut dinamakan dengan kultivar Kathadin.  Contoh lain adalah kentang dengan kandungan pati yang tinggi yang dapat menghasilkan kentang goreng dan kripik kentang dengan kualitas yang lebih baik karena menyerap lebih sedikit minyak ketika digoreng. Kentang ini dirakit dengan rekayasa genetika dengan menginsert gen dari bakteri ke kentang Russet Burbank.  Gen tersebut dapat meningkatkan kandungan pati umbi yang dihasilkan dan menurunkan penyerapan minyak sewaktu digoreng.  Hal ini dianggap menguntungkan karena dapat menurunkan biaya produksi sekaligus lebih sehat bagi konsumen.  Gambar 4.      Uji lapangan kultivar Katahdin terhadap serangan Phytopthora infestans. Tampak Kathadin lebih tahan dibandingkan dengan kentang kontrol   

Kemajuan dan penerapan bioteknologi tanaman pada tanaman hortikultura 

Dengan semakin meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan arti penting kesehatan, kebutuhan akan produk-produk hortikultura sebagai sumber vitamin meningkat.  Selain itu dari sisi kesehatan mental, kebutuhan produk hortikultura yang lain yaitu berbagai tanaman hias turut meningkat.   Teknik kultur jaringan telah dimanfaatkan secara luas pada tahaman hortikultura, seperti perbanyakan klonal yang dikombinasikan dengan teknik bebas virus pada kentang, pisang, anggur, apel, pear dan berbagai jenis tanaman hias, serta penyelamatan embrio untuk mendapatkan tanaman hibrida dari hasil persilangan interspecies. Teknologi rekayasa genetika juga telah diaplikasikan pada tanaman hortiklutura.  Sebagai contoh yang cukup terkenal adalah Tomat FlavrSavr.  Tomat merupakan salah satu produk hortikultura utama. Seperti produk hortikultura pada umumnya, tomat memiliki shelf-life yang pendek. 

Shelf-life yang pendek ini disebabkan dengan aktifnya beberapa gen seperti pectinase saat tomat mengalami kematangan.  Dengan kondisi seperti ini, tomat sulit sekali untuk dipasarkan ke tempat yang jauh terlebih untuk ekspor.  Biaya pengemasan sangat mahal seperti menyediakan box yang dilengkapi pendingin.  Untuk mengatasi hal ini para peneliti di Amerika mencoba merekayasa kerja gen polygalacturonase (PG) yang berasosiasi dengan shelf-life tomat yaitu dengan menginsert antisense dari gen PG. 

Dengan demikian shelf-life tomat menjadi lebih lama.  Tomat ini dinamakan dengan FlavrSavr.  Pada industri tanaman hias, teknik kultur jaringan telah digunakan secara meluas pada berbagai tanaman hias. Teknik kultur jaringan yang diaplikasikan mencakup kultur meristem, organogenesis dan somatic embryogenesis, konservasi, eliminasi patogen.   

Sementara itu untuk meningkatkan keragaman dapat memanfaatkan adanya variasi somaklonal (Gambar 5).  Hal ini sangat penting dilakukan mengingat tanaman hias kebanyakan dinilai dari segi estetika dan kelangkaannya, serta bentuk-bentuk baru seperti bentuk serta warna daun dan bunga, arsitektur tanaman, serta sifat-sifat unik tanaman tertentu.  Teknik lain untuk keperluan ini adalah mutasi.  Pada industri tanaman hias dalam pot sering digunakan Zat Pengatur Tumbuh untuk mengatur pola pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Contohnya adalah penggunaan retardan untuk membuat pertumbuhan menjadi pendek dan meroset.  

Pemanfaatan rekayasa genetika pada tanaman hias berpotensi untuk menambahkan sifat-sifat baru yang unik.  Contoh tanaman yang telah direkayasa antara lain krisan dan mawar dengan tingkat ketahanan dan vase life yang lebih tinggi.  Gambar 5.  Somatic embryogenesis Euphorbia pulcherrima.      Gambar 6.  Hasil variasi somaklonal pada spesies Anthurium   

Kemajuan dan penerapan bioteknologi tanaman pada tanaman perkebunan 

Bioteknologi juga diterapkan pada beberapa tanaman perkebunan seperti tebu, tembakau, kelapa sawit dan lain-lain. Hingga saat ini kapas merpuakan komoditas yang paling banyak mendapat sentuhan bioteknologi.  Di Amerika, hingga saat ini tanaman transgenik yang paling banyak dilepas adalah kapas.   

Kapas transgenik yang terkenal adalah kapas Bt (Bacillus thuringiensis). Dengan introduksi gen Bt ke tanaman kapas, tanaman kapas menjadi tahan terhadap hama yang disebabkan tanaman dapat memproduksi protein Bt-toxin. Bt pertama ditemukan tahun 1911 dan terdaftar sebagai biopestisida di Amerika Serikat tahun 1961.   

Salah satu dari sekian banyak kerugian merokok adalah gangguan kesehatan karena kadar nikotin yang tinggi.  Pendekatan bioteknologi dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini yaitu dengan merakit tanaman tembakau yang bebas kandungan nikotin.  Dengan cara ini perokok dapat terkurangi resiko gangguan kesehatannya. 

Pada tahun 2001 jenis tembakau ini diklaim dapat mengurangi resiko serangan kanker akibat merokok.   Selain bebas nikotin, sentuhan bioteknologi lain juga dilakukan untuk tanaman tembakau misalnya dengan meningkatkan aroma menggunakan gen aroma dari tanaman lain. Salah satu yang telah berhasil adalah menggunakan monoterpene synthase dari lemon.

Sumberdaya Manusia Dalam Revitalisasi Pertanian

M.A. Chozin, Awang Maharijaya

Pada tanggal 11 Juni 2005 bertempat di Waduk Ir H. Djuanda, Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Presiden RI telah mencanangkan Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) yang merupakan program dan strategi umum pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan, petani, nelayan, dan petani hutan; meningkatkan daya saing produk pertanian, perikanan, dan kehutanan; serta menjaga kelestarian sumberdaya pertanian, perikanan, dan kehutanan.                              

Dalam rangkaian acara yang dihadiri oleh seribu lebih undangan itu, diselipkan acara penyerahan beasiswa BUD (Beasiswa Utusan Daerah) dari Bupati Karo dan dari Departemen Agama (BUD jalur pondok pesantren), yang secara simbolis diserahkan oleh Rektor Institut Pertanian Bogor  (IPB) kepada wakil calon mahasiswa.  Sayangnya, tidak banyak yang tahu apa makna dan arti dari acara pemberian beasiswa tersebut, bahkan mungkin terkesan aneh  dan tidak relevan jika penyerahan beasiswa tersebut disisipkan dalam rangkaian acara RPPK.  Hal ini terjadi karena informasi yang diberikan oleh pembawa acara sangat minim.  Selain itu dalam sambutan Menteri Koordinator Perekonomian, Aburizal Bakrie, yang berupa laporan dimulainya RPPK, hal tersebut juga tidak terungkap.  Dengan demikian tidak mengherankan ketika muncul banyak pertanyaan mengenai urgensi acara penyerahan beasiswa tersebut dalam rangkaian acara RPPK. 

Beasiswa Utusan Daerah yang secara simbolis diserahkan dalam acara tersebut sebenarnya merupakan bentuk inovasi IPB dalam sistem penerimaan mahasiswa baru yang sudah tiga tahun terakhir ini diimplementasikan oleh IPB.  Sejalan dengan otonomi daerah, permintaan Pemda-Pemda Kabupaten/Kota untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia bidang pertanian  di daerah terus mengalir di IPB.  Mereka dapat menyediakan dana dari DIP  untuk mengirim calon mahasiswa terbaik dari daerah untuk memperdalam ilmu-ilmu pertanian di IPB.  Oleh sebab itu IPB tergerak untuk merancang sistem penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan pascasarjana IPB yang direkomendasikan dan dibiayai oleh pemerintah Provinsi, Kab/Kota, Lembaga dan Instansi lainnya, yang bila lulus diharapkan kembali ke daerah asal  untuk menjadi agents of change guna membangun daerahnya.   

Sebetulnya melalui penerimaan mahasiswa jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB), IPB telah berupaya selama lebih dari 30 tahun menerima mahasiswa baru dari seluruh plosok tanah air.  Setiap tahun tidak kurang dari 1500 SMU yang tersebar di seluruh Indonesia telah mengirimkan siswanya ke IPB tanpa test. Namun demikian, karena aktivitas ekonomi di daerah dan perdesan masih belum menarik, setelah lulus mereka umumnya bekerja di di daerah perkotaan.  Untuk itu, IPB mulai tahun ajaran baru 2003/2004 telah menawarkan sistem baru dalam penerimaan mahasiswa yaitu melalui beasiswa utusan daerah (BUD).  Sistem penerimaan ini saat ini tidak terbatas bagi pemerintah daerah saja, akan tetapi juga untuk lembaga-lembaga pemerintah dan non-pemerintah lainnya.  

Dengan sistem ini, lembaga pemerintah maupun non pemerintah diberi kesempatan untuk mengirimkan putra-putri terbaiknya menjadi mahasiswa IPB.  Sistem ini terbuka untuk seluruh program pendidikan yang ada di IPB, baik S0, S1, S2 dan S3.  Salah satu syaratnya adalah mereka harus kembali ke daerah atau instansinya masing-masing setelah lulus.    Diharapkan dalam jangka panjang terjadi distribusi SDM yang lebih baik di seluruh plosok tanah air, sampai di pesantren-pesantren dan wilayah perdesaan.  Mereka akan menjadi critical mass dalam pembangunan masyarakat sekitarnya.  Pembentukan critical mass dirasakan tidak cukup hanya mengandalkan proses alamiah melainkan harus diakselerasi melalui program-program pendidikan formal maupun non-formal.  Dengan demikian, pada intinya pesan yang ingin disampaikan dalam acara pemberian beasiswa tersebut adalah bahwa peningkatan kualitas dan kuantitas SDM di daerah melalui pendidikan merupakan program utama yang perlu mendapatkan perhatian dalam RPPK.  Kita bersyukur, pengembangan SDM merupakan salah satu prioritas dari 12 kebijakan dan strategi operasional RPPK khususnya pada periode 2005-2009. 

Pembangunan Pertanian dan Perdesaan

Banyak pembicara dalam berbagai kegiatan termasuk dalam RPPK menyatakan bahwa pembangunan pertanian dalam arti luas harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional Indonesia. Hal tersebut didasarkan pada dasarnya Pertanian, perikanan, dan kehutanan telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perekonomian nasional melalui pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), perolehan devisa, pemenuhan kebutuhan pangan (termasuk gizi) dan bahan baku industri, sumber alternatif energi yang lestari, pengentasan kemiskinan, penciptaan kesempatan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat.  Selain itu pertanian juga mampu mendorong perkembangan sektor ekonomi lain, menjadi andalan kegiatan ekonomi dihampir seluruh daerah, khususnya daerah perdesaan,  menjadi andalan ekspor, dan yang merupakan pilar utama pelestarian lingkungan hidup atau daya dukung sumberdaya alam dan lingkungan.  Pertanian, perikanan, dan kehutanan mempunyai efek pengganda kedepan dan kebelakang yang besar, melalui keterkaitan ‘input-output-outcome’ antar industri, konsumsi dan investasi.  Hal ini terjadi secara nasional maupun regional karena keunggulan komparatif sebagian besar wilayah Indonesia adalah di bidang pertanian, perikanan, dan kehutanan sehingga bidang tersebut sangat terkait dengan berbagai nilai-nilai sosial budaya masyarakat. 

Telah dibuktikan dalam masa krisis pada sekitar tahun 1999, sektor pertanian, perikanan dan kehutanan dapat menolong bangsa Indonesia keluar dari berbagai kesulitan sosial-ekonomi.  Hal ini berdasarkan pada fakta empiris, bahwa ada tiga permasalahan mendasar yang terjadi saat itu (pada masa krisis) yaitu kekurangan sembilan bahan pokok (sembako), menurunnya kesempatan kerja dan berusaha, yang berakibat banyaknya tenaga yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), serta menurunnya perolehan devisa.  Pada kenyataannya  ternyata ketiga permasalahan tersebut dapat ditanggulangi melalui penguatan dan pemberdayaan agribisnis dan agroindustri.  Terbukti bahwa selama masa krisis hanya sektor pertanian yang masih memiliki pertumbuhan positif. Pada saat ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan negatif hingga -13,7 persen tahun 1997/1998, sektor pertanian, perikanan dan kehutanan masih tumbuh positif 0,9 persen, bahkan kelompok pertanian non-tanaman pangan masih mencapai pertumbuhan hingga 6 persen pada periode tersebut. Pada periode tersebut pertanian, perikanan dan kehutanan mampu menampung sekitar 5 juta tenaga kerja baru yang keluar dari sektor industri.   

Saat ini, secara makro pertanian, perikanan, dan kehutanan telah memberi kontribusi yang sangat signifikan.  Pertanian, perikanan, dan kehutanan telah memberi kontribusi hingga 15 persen terhadap pendapatan nasional, dan menyediakan pekerjaan bagi sekitar 43 juta orang atau sekitar 45 persen dari seluruh tenaga kerja Indonesia.  Kontribusi makro yang signifikan tersebut diperkuat dengan peran lain, yaitu kontribusi produk-produk PPK dalam ekspor netto yang positif dan bertumbuh, serta peran PPK dalam menyangga ekonomi pada saat krisis (buffer role).  Ketika ekonomi Indonesia mulai bangkit kembali antara tahun 1999-2003, pertumbuhan ekonomi ditopang terutama oleh konsumsi dan petani, nelayan, dan masyarakat desa menjadi kelompok konsumen dengan jumlah terbesar dari berbagai produk sektor lain. 

Namun demikian, saat ini pertanian juga masih menghadapi berbagai permasalahan yang sangat berat.  Beberapa permasalahan tersebut antara lain adalah lemahnya daya saing, keterbatasan jumlah dan kualitas SDM berkualitas, sumberdaya alam yang semakin tertekan, dukungan infrastruktur yang serba terbatas, dan dukungan sektor lain yang serba terbatas.  Banyak tempat di Indonesia dimana sumberdaya alam sektor pertanian belum termanfaatkan secara optimal, sehingga efisiensi dan produktivitasnya masih relatif rendah.  Sebaliknya ditempat lain telah terjadi eksploitasi berlebihan sehingga kualitas sumberdaya alamnya menurun drastis. 

Daerah yang ada di wilayah Indonesia pada umumnya adalah daerah perdesaan. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi seharusnya berbasis pada sumberdaya perdesaan yang pada umumnya adalah adalah sumberdaya alam terutama pertanian, perikanan dan kehutanan. Upaya memacu pertumbuhan wilayah perdesaan termasuk RPPK, sudah barang tentu fokus perhatian kita harus diarahkan pada pencermatan karakter wilayah perdesaan itu sendiri.  Dalam era desentralisasi dan otonomi daerah saat ini, para pengambil keputusan perlu memiliki wawasan komprehensif kewilayahan yang utuh.  Kesalahan mengambil model pembangunan di daerah  akan berakibat fatal bagi masa depan suatu daerah atau negara secara keseluruhan. Untuk itu diperlukan adanya SDM yang berkualitas dalam jumlah yang memadai untuk pembangunan daerah.  Dari SDM terdidik inilah diharapkan banyak ide-ide cemerlang yang sejalan dengan kebutuhan daerahnya (specific location) yang sangat berguna bagi daerah. Salah satu pencetak SDM berkualitas itu tentulah Perguruan Tinggi khususnya Perguruan Tinggi yang kompetensi utama di bidang pertanian dalam arti luas.   

Perlunya Peningkatan Kuantitas dan Kualitas SDM Bidang Pertanian

Seperti telah disebutkan di atas, salah satu permasalahan mendasar di bidang pertanian, perikanan, dan kehutanan adalah keterbatatasan jumlah dan kualitas SDM bidang pertanian. Permasalahan SDM ini tentu saja memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap munculnya permasalahan-permasalahan lain.  Begitu juga sebaliknya, jika permasalahan SDM ini dapat diatasi dengan peningkatan kuantitas dan kualitas SDM dalam bidang pertanian, perikanan, dan kehutanan maka permasalahan yang lain akan dapat diatasi dengan lebih baik. 

Saat ini sebagian besar sumberdaya manusia yang mendukung sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan masih rendah kualitasnya.  Bagian tersebesar yaitu petani mempunyai tingkat pendidikan formal yang rendah atau tidak menyelesaikan pendidikan dasar.  Hal ini menyebabkan kemampuan dalam menyerap informasi dan mengadopsi teknologi relatif sangat terbatas.  Rendahnya tingkat pendidikan tersebut juga berakibat pada rendahnya kemampuan petani, peternak, nelayan maupun petani hutan dalam mengelola usahanya sehingga usahanya tidak dapat berkembang dengan baik dan rata-rata pendapatan menjadi rendah. 

Sementara itu dalam tingkat penyuluh ditemui bahwa jumlah penyuluh yang ada sangat terbatas jumlah dan kualitasnya.  Rata-rata usia penyuluh juga sudah lebih dari 45 tahun.  Sistem dan kelembagaan penyuluhan pertanian, perikanan, dan kehutanan belum baik sehingga belum mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi profesi seorang penyuluh.   

Dalam tingkat pengambil kebijakan, masih banyak ditemui instansi daerah yang belum mampu memetakan sumberdaya pertanian, perikanan, dan kehutanan di daerah secara komprehensif dan memiliki kecermatan dalam membuat konsep pemanfaatannya.  Bila melihat fakta bahwa sebagian besar potensi pedesaan di Indonesia adalah berupa potensi sumberdaya pertanian, perikanan, dan kehutanan maka sudah seharusnya instansi-instansi di daerah diisi oleh SDM berkualitas yang memiliki pemahaman akan pertanian dalam arti luas.  Keperluan SDM pertanian yang berkualitas tersebut menjadi sangat penting dalam program RPPK, dikarenakan arah pengembangan bersifat pendekatan partisipatif lokal, serta adanya desentralisasi kebijakan sesuai dengan kondisi spesifik masing-masing daerah berkaitan dengan otonomi daerah. 

Peran Pendidikan Tinggi Pertanian dalam Pembangunan (Pertanian dan Perdesaan) 

Berdasarkan uraian tersebut di atas, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperkuat posisi pertanian, perikanan, dan kehutanan dalam pembangunan pertanian dan perdesaan diantaranya: 1) Mengoptimalkan pemanfaatan dan kelestarian sumberdaya pertanian (land, water, manpower, capital and technology), 2) Diversifikasi pertanian yang komprehensif, 3) Aplikasi teknologi tepat guna secara dinamis, 4) Peningkatan efisiensi dalam bidang agribisnis melalui peningkatan kualitas dan kuantitas produk pertanian serta nilai tambah produk pertanian dengan cara aplikasi IPTEKS yang ramah lingkungan dan mampu meningkatkan taraf kehidupan petani.  Daya saing, produktivitas, dan efisiensi akan ditentukan oleh pemaduan sumberdaya alam, sumberdaya modal, dan sumberdaya pengetahuan (resource and knowledge based combination).   Jumlah penduduk yang besar di Indonesia jika terdiri dari SDM yang berkualitas tinggi akan menjadi kekuatan yang sangat besar.  Disamping aspek kualitas, aspek penyebarannya di berbagai daerah juga sangat menentukan.   

Pendidikan tinggi pertanian Indonesia telah sejak lama berperan dalam pengembangan sumberdaya manusia serta telah memberikan sumbangan nyata dalam mendukung perkembangan pertanian dan perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya.  Sejarah telah menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara penyelenggaraan pendidikan tinggi pertanian dan perkembangan kegiatan pertanian.  Demikian juga untuk kondisi saat ini, seperti yang telah dikemukakan, sesuai dengan tugas dan fungsinya pendidikan tinggi dapat berperan aktif mendukung pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan dalam: 1) Mengembangkan SDM berkualitas, 2) Mendukung pencapaian keamanan dan ketahanan pangan, 3) Mendukung perkembangan agribisnis, 4) Melakukan penemuan, pengembangan dan penerapan IPTEKS, 5) Berperan serta dalam menjaga dan memelihara pelestarian fungsi lingkungan hidup.  Kelima hal itu dapat diimplementasikan melalui kegiatan pengajaran, penelitian dan pemberdayaan masyarakat oleh Perguruan Tinggi.  

Dengan demikian, dapat dikatakan Perguruan Tinggi dalam pembangunan pertanian dan perdesaan memiliki peran dalam menghasilkan lulusan dan IPTEKS. Lulusan Perguruan Tinggi haruslah berkualitas dan mampu menjadi agents of change yang memiliki kepekaan lingkungan dan sosial, menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai kemanusiaan serta memiliki mental kewirausahaan. Perguruan Tinggi dituntut mampu menghasilkan IPTEKS yang tepat guna untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat.  Disamping itu Perguruan Tinggi juga merupakan mediator pembangunan melalui bridging, dispute settlement/conflict management, serta sebagai pelaksana pembangunan melalui partisipasi langsung maupun kerjasama/kemitraan. 

Untuk dapat menjalankan peran tersebut, Perguruan Tinggi harus memiliki daya respon yang tinggi terhadap kebutuhan masyarakat.  Harapan dan tuntutan masyarakat terhadap hasil pendidikan dapat ditemukan dari pernyataan-pernyataan masyarakat mengenai kebutuhannya terhadap lulusan Perguruan Tinggi yang dapat memecahkan masalah-masalah kuantitatif maupun kualitatif.  Meskipun demikian, perlu diingat masalah-masalah yang ditemukan di masyarakat seringkali bersifat kontemporer dan kadang-kadang dapat menutupi masalah-msalah yang akan timbul di kemudian hari yang bersifat lebih fundamental.  Perguruan Tinggi dituntut mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan baik technical, soft skills, maupun emotional dan spiritual skills, sehingga mampu menghadapi tantangan zaman yang senantiasa berubah.  Dengan demikian,  Perguruan Tinggi perlu merumuskan sistem kurikulum yang bersifat, lugas, sederhana, mampu memberikan keleluasaan dalam meramu mata kuliah untuk memperluas wawasan lulusan tanpa mengorbankan efisiensi penyelenggaraan, dan luwes sehingga mampu menampung kemungkinan perubahan yang senantiasa terjadi dan  relevan terhadap kebutuhan masyarakat.  Dengan perkataan lain, kurikulum tersebut mempunyai daya respon yang tinggi terhadap perubahan tuntutan masyarakat.  Selain itu tuntutan akses terhadap pendidikan tinggi berkualitas bagi calon mahasiswa yang berpotensi dari berbagai strata sosial dan asal daerah menuntut kreatifitas Perguruan Tinggi untuk menciptakan sistem rekrutmen mahasiswa baru dengan tingkat distribusi yang semakin merata baik.  Dengan distribusi yang merata ini diharapkan transfer IPTEKS juga akan semakin merata ke berbagai daerah di Indonesia. 

Perguruan Tinggi merupakan tempat dididiknya para generasi penerus bangsa.  Program BUD IPB dimaksudkan sebagai wadah dan upaya untuk menggali dan mengembangkan potensi daerah dalam bidang SDM pertanian dalam arti luas. IPB yakin masih banyak calon mahasiswa berprestasi yang belum memiliki kesempatan secara merata untuk mengembangkan potensi dirinya ke jenjang pendidikan tinggi yang berkualitas di bidang pertanian dalam arti luas karena keterbatasan akses baik dikarenakan hambatan geografis maupun finansial.  Melalui program BUD diharapkan daerah akan lebih mampu berperan dan memberikan sumbangsih nyata bagi pembangunan nasional berbasis kerakyatan karena salah satu tolak ukur keberhasilan pembangunan nasional antar lain dari keberhasilan dalam membangun kualitas SDM yang dapat dihandalkan untuk kesejahteraan rakyatnya.  

Hal penting lain yang diperlukan di daerah dan perdesaan adalah tersedianya tenaga terampil yang benar-benar siap di lapangan, baik dalam proses produksi hulu dan hilir sampai tahap pemasaran produk.  Dalam hal ini pembentukan community college adalah salah satu alternatif yang baik.  Di dalam community college, siswa setingkat SMU langsung dididik di lapangan untuk menjadi praktisi yang handal dan siap tempur.  Bagi mereka yang berprestasi dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi terkemuka.  Dengan semakin banyaknya tanaga terampil, maka kegiatan ekonomi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.    Kombinasi dari sistem Beasiswa Utusan Daerah/Instansi dengan pola community college diharapkan dapat menyediakan sumberdaya manusia yang benar-benar diperlukan dalam pembangunan nasional.  

Dengan sistem yang serupa dengan community college, IPB saat ini juga sedang merintis kerjasama dengan beberapa Pemerintah Daerah, LSM dan industri kecil menengah dalam peningkatan skill siswa SMU, sehingga mereka dapat bekerja setelah lulus SMA. Bersama dengan Kadin, IPB juga sedang merintis kegiatan untuk menghasilkan enterpreneur berbasis pesantren.  Para santri akan dimagangkan dan diberi dana pinjaman untuk usaha yang ditekuni.   

Penutup

Perguruan Tinggi seperti halnya IPB merupakan tempat dibentuknya para intelektual dan calon-calon pemimpin bangsa.  Lulusan IPB pada umumnya dan program BUD khususnya di masa depan tidak tertutup kemungkinan dapat menempati posisi eselon satu maupun eselon dua dalam pemerintahan.  Tidak tertutup kemungkinan mereka akan menjadi politisi dan birokrat.  Demikian juga tidak tertutup kemungkinan mereka akan menjadi penentu dalam kebijakan pembangunan daerah.  Dengan demikian sangat penting untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya pembangunan pertanian dalam arti luas kepada mereka.  Menggugah kembali kesadaran generasi muda akan potensi pertanian, perikanan, dan kehutanan bagi  kesejahteraan bangsanya merupakan hal yang penting, begitu juga  menggugah kembali kesadaran bahwa pertanian adalah ‘hidup matinya’ bangsa Indonesia, seperti yang disampaikan Presiden RI pertama, Ir. Sukarno saat peletakan batu pertama gedung Fakultas Pertanian tanggal 27 April 1952 di Bogor. 

Saat ini masih banyak politisi, ekonom,  dan birokrat di pusat maupun daerah yang masih mempunyai pandangan bahwa sektor pertanian tidak dapat dijadikan sektor andalan, tetapi hanya sebagai sektor penunjang atau pendukung.  Hal ini disebabkan oleh pandangan  sektor pertanian secara sempit sebatas bercocok tanam, bukan memandang pertanian dalam suatu sistem agribisnis.  Jika paradigma  tersebut tidak dapat dirubah, maka tudingan beberapa pihak yang mengatakan bahwa RPPK hanya sebatas retorika tidak mustahil akan menjadi kenyataan.

Mengemban Amanat Bangsa

 Walau sering diragukan oleh segelintir masyarakat kita sendiri, pada kenyatannya sampai saat ini negara kita (Indonesia) masih merupakan negara agraris maritim.  Hal tersebut terbukti dari masih sangat besarnya peran sektor pertanian dalam pembangunan nasional Indonesia.  Ketergantungan bangsa yang tinggi pada sektor pertanian terlihat dari besarnya serapan angka tenaga kerja dari sektor pertanian (sekitar 45%), sumbangan devisa yang besar dari sektor pertanian, pelestari lingkungan hidup, sampai kepada harapan masyarakat akan pemenuhan energi alternatif (bio-energy) di masa mendatang.  

Sektor pertanian juga terbukti sebagai sektor yang tangguh yang mampu menjadi sandaran bangsa ketika bangsa ini mengalami masa krisis. Sejarah telah mencatan bahkan ketika pertumbuhan sektor-sektor lain di Indonesia mengalami pertumbuhan negatif pada sekitar tahun 1998/1999, hanya sektor pertanian yang masih dapat menikmati pertumbuhan yang positif.  Dengan demikian sangat jelas bahwa pertanian di Indonesia sangat potensial untuk terus dikembangkan untuk memperkuat jati diri bangsa.    

Bangsa Indonesia patut bersyukur atas nikmat Tuhan yang telah menganugerahkan wilayah yang luas yang terbentang pada wilayah tropis.  Beberapa keunggulan wilayah tropis dibandingkan wilayah lain diantaranya adalah potensi agroklimat yang baik seperti curah hujan yang tinggi, curahan sinar matahari yang tinggi, sepanjang tahun, suhu relatif konstant sepanjang tahun, dan lain-lain.  Akibatnya banyak sekali flora dan fauna yang dapat tumbuh di wilayah Indonesia.  Hal inilah yang membuat Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki mega biodiversity berupa plasma nutfah terbesar di dunia.  Sayangnya potensi yang sedemikian besar tersebut belum dapat dimanfaatkan sebagai keunggulan bangsa.  Salah satu penyebab belum berkembangnya sektor pertanian adalah pertahian pemerintah terhadap sektor pertanian masih minim baik di pusat ataupun di beberapa daerah. 

Rasa percaya diri bangsa ini terhadap identitas dan jati diri bangsa sebagai negara agraris maritim semakin berkurang dan ironisnya kampanye dan promosi pertanian melalui berbagai media kepada generasi muda juga semakin berkurang.  Jarang sekali ada film, sinetron, novel dan program acara TV yang menampilkan sisi keindahan pertanian.  Akibat dari hal tersebut pertanian semakin termajinalkan dan negara kita akan sulit berkembang.  Semakin berkurangnya SDM pertanian yang unggul akan menyebabkan pertanian terpuruk dan sumberdaya yang ada tidak termanfaatkan dengan optimal, bahkan dapat terjadi eksploitasi yang berlebihan yang kurang bijak sehingga dapat mengakibatkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan.  Banyaknya kejadian bencana alam saat ini kemungkinan juga disebabkan oleh kekurangtahuan kita dalam mengenal, memelihara dan memanfaatkan sumberdaya alam. 

Dengan demikian jelas bahwa SDM pertanian yang tangguh dalam bidang pertanian dalam arti yang luas sangat dibutuhkan negeri kita. Selain dalam hal jumlah, penyebaran/distribusi SDM yang berkualitas juga merupakan aspek yang penting.  Distribusi tidak hanya berupa distribusi yang merata dalam bidang asal dan penyebaran lulusan di daerah. Namun yang tidak kalah penting adalah distribusi SDM yang bermutu pada cabang-cabang ilmu pertanian dan keseluruhan sistem pertanian mulai  dari ilmu dasar pendukung pertanian, biosciences, kesehatan dan lingkungan, budidaya, penanganan dan pengolahan hasil, industri hingga aspek ekonomi, sosial dan manajemen.  Keseluruhan rantai tersebut haruslah kuat.  Ingat hukum Liebig bahwa kekuatan suatu rantai tergantung pada titik terlemah.  Untuk itulah keseluruhan sistem pertanian harus diisi oleh SDM – SDM berkualitas yang mampu berkerjasama/berinteraksi dengan baik antar sub sistem dalam sistem pertanian. 

Ketimpangan yang ada pada salah satu mata rantai akan berdampak pada ketidakmampuan pertanian berkembang secara keseluruhan.  Salah satu yang cukup memprihatinkan adalah penurunan minat generasi muda terhadap bidang pertanian dalam arti luas yang salah satunya direfleksikan dengan turunnya peminat bidang pertanian di perguruan tinggi.  Selain itu acara-acara pemuda juga sangat jarang yang menunjukkan kecintaan terhadap pertanian.  Hal ini diperparah dengan tren penurunan lulusan pertanian yang bekerja pada bidang pertanian (walau hal ini belum sepenuhnya benar karena definisi pertanian telah didefnisikan ulang).  Banyak pula mahasiswa yang kurang motivasinya ketika belajar pertanian karena merupakan pilihan ke dua, dan setelah terjun ke dunia kerja juga mengalami hal yang sama.  Hal ini sangat wajar karena sampai saat ini pemerintah belum memberikan apresiasi yang pantas kepada bidang ini.  

Hal inilah yang perlu kita rubah.  Kemampuan manusia untuk meneropong masa depan sangatlah terbatas. Oleh karena itu hendaklah kita mensyukuri dengan memanfaatkan kesempatan yang ada sebaik-baiknya.  Kita sebenarnya sedang turut mengemban amanat untuk memajukan pertanian.  Harapan masyarakat Indonesia yang antara lain diwujudkan dalam bentuk subsidi kepada mahasiswa untuk biaya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri.  

Beruntunglah kita menerima dan sadar akan amanat tersebut.  Perlu kita ingat dan camkan kembali bahwa ‘pertanian adalah soal hidup atau mati’.  Seperti yang disampaikan presiden Sukarno.  Pertanian bukanlah bidang ilmu ‘kuno’ yang penuh hafalan-hafalan yang rumit dan menjemukan.  Pertanian adalah tentang hidup dan kehidupan.  Apakah kita akan menunggu suatu saat ketika kita disadarkan bahwa ‘uang’ tidak dapat dimakan?  Ketika pertanian benar-benar terpuruk sehingga bangsa kita harus memakan hasil  pertanian yang bukan dari lahan di negerinya sendiri? Dan bangsa kita menjadi bangsa yang sangat tergantung kepada bangsa lain? Semoga hal tersebut tidak terjadi.  Mari kita emban amanat ini sebaik-baiknya.  

Awang Maharijaya 

Di tengah hutan di Liwa, Lampung Barat 27-28 Agustus 2006 (modifikasi)

Bisma, Kumbokarno, Wibisana, Salya, Karna.. dan seterusnya…

Judul diatas sekilas seperti cerita pewayangan. Memang betul. Nama-nama di atas adalah nama-nama tokoh pewayangan. Pada tulisan ini saya bermaksud membahas sedikit (karena pengetahuan saya mengenai wayang juga terbatas) mengenai berbagai cara pandang terhadap kecintaan seseorang kepada negaranya.

Banyak sekali cerita-cerita yang mengisahkan kecintaan terhadap tanah air. Seperti pada judul di atas. Ada banyak alasan seseorang membela negerinya, bahkan ketika negerinya sedang pada jalur yang salah (ini contoh yang ekstrim). Semoga negeri kita tidak akan sampai seperti itu.

Bisma adalah tokoh perwayangan yang memiliki kehidupan yang penuh pergolakan batin. Jika kita selami, banyak sekali perbuatan-perbuatannya yang mengisahkan kecintaanya terhadap negerinya. Bisma sebenarnya berhak atas tahta Astinapura, akan tetapi karena keinginannya yang luhur dan demi menghidari perpecahan dalam negara astina ia rela tidak menjadi raja. Kecintaan Bisma pada negerinya jugalah yang akhirnya membawa dirinya berada pada pihak Kurawa dalam perang Baratayudha dimana sebenarnya tahu bahwa Kurawa merupakan pihak yang salah. Niatnya dalam pertempuran itu adalah mempertahankan negara Astina dari gempuran musuh.

Senada dengan hal itu adalah Kumbokarno dalam cerita Ramayana. Ketika pasukan Rama dengan tentara keranya akan menyerang Alengka, Kumbokarno mengingatkan Rahwana (kakaknya) agar memilih jalan damai dengan menyerahkan Dewi Sinta. Rahwana akhirnya tidak memilih jalan damai dan memutuskan berperang dengna Rama. Dua adik Rahwana Kumbokarno dan Wibisana memilih jalur yang berbeda mengenai hal ini. Wibisana memilih bergabung dengan pasukan Rama dengan niat tidak menghianati/menghancurkan negaranya namun untuk menunjung kebenaran, sementara Kumbokarno yang dalam hatinya tidak ingin berperang, memilih berperang melawan Rama dengan niat mempertahankan negaranya berdasar sebuah prinsip yang sangat terkenal ”Right or Wrong is my Country”.

Sementara Salya dan Adipati Karna merupakan contoh seseorang yang harus mencintai negara lain karena berhutang budi. Salya bukan orang asli Astinapura, tapi karena Astina telah berjasa besar membesarkan anaknya hasil hubungan dengan ras raksasa yang dalam cerita dikisahkan merupakan hal tabu. Diam-diam Salya memasukkan anaknya yang mirip bayi raksasa ke dalam kalangan Kurawa. Burisrawa, anaknya akhirnya mendapatkan makanan, pendidikan hingga olahkanuragan yang baik di Astina. Terdorong oleh hal inilah akhirnya Salya mampu membela negara Astina. Sesuatu yang dalam benak siapapun merupakan hal yang salah.

Lain tapi hampir serupa, ialah Adipati Karna. Karna merupakan anak Dewi Kunti, sehingga sebenarnya ia adalah saudara Yudhistira, Bima dan Arjuna, serta sepupu Nakula dan Sadewa. Pada perang Baratayudha ia justru berada pada pihak musuh Pandawa. Benarkah ia tulus membela negara Astina dari gempuran Pandawa. Inilah yang kemudian menjadi menarik. Karna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah yang hampir sama dengan Arjuna. Ia juga mahir dalam berperang, namun bakatnya terperangkap dalam status sosial yang rendah, apresiasi yang rendah dan kurangnya pengakuan terhadap kemampuannya. Hal itulah yang membuatnya haus akan status yang memberikannya identitas atau penghargaan. Ketika masa kecilnya, pihak pandawa tidak mengakui dan memberikan apresiasi terhadap Karna dan justru pihak Kurawalah yang memberikan apresiasi hingga mengangkatnya menjadi Adipati maka Karna memutuskan kesetiaan untuk membela Kurawa dan negeri Astinapura, meskipun dia juga tahu itu akan melukai saudara-saudaranya sendiri.

Daftar tokoh wayang di atas bisa saja bertambah, bahkan bisa diganti dengan tokoh-tokoh nasional atau tokoh dunia. Tapi setidaknya kita punya gambaran bahwa banyak alasan untuk membela negara kita (tentunya bukan pada chauvinisme yang sempit).

Sangat sulit membayangkan jika kita harus mencintai tanah air yang sedang sakit atau kurang memberikan penghargaan kepada kita (tidak kondusif untuk riset, profesi kurang dihargai, dll). Bagaimana jika kelak kita dihadapkan pada kondisi seperti para tokoh tersebut? Katakanlah misalkan kita mendapat pengakuan, apresiasi dan lingkungan yang kondusif untuk bekerja, riset, dll lebih dari tempat asal kita (tanah air), atau mendapat pendidikan dan sarana pengembangan diri yang lebih baik? Apakah kita akan melupakan tanah air kita, dan pindah membela tanah air yang lain?

Ah tidak usah terlalu dipikirkan toh itu kan di cerita wayang… hanya sebagai renungan saja, mudah-mudahan tanah air kita semakin jaya ke depan.. Amin

Awang Maharijaya
26 Februari 2008, nulis sambil menikmati opor ayam masakan sendiri (kangen masakan Indonesia)