Penurunan Minat terhadap Bidang Keahlian Pertanian di Indonesia: Sebuah Ironi yang Perlu Solusi

M.A. Chozin,  Awang Maharijaya

Selama 5 tahun terakhir, Institut Pertanian Bogor (IPB) mengalami penurunan peminat calon mahasiswa baik pada jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) maupun Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), kecuali pada tahun penerimaan 2005/2006 peminat jalur USMI sempat meningkat cukup signifikan.  Penurunan tersebut seiring dengan menurunnya minat siswa SMA untuk melanjutkan studi di Perguruan Tinggi secara keseluruhan di Indonesia.  Hal yang cukup memprihatinkan adalah penurunan peminat untuk bidang-bidang studi yang berkaitan dengan pertanian menurun dengan cukup signifikan, bahkan saat ini semakin banyak program studi yang ditawarkan di Perguruan Tinggi Negeri selain IPB yang memiliki jumlah pelamar jauh dibawah daya tampungnya.Penurunan minat dalam bidang pertanian ternyata tidak hanya terjadi pada program sarjana (S1) saja.  Sejumlah lembaga pendidikan formal pertanian lainnya dikhawatirkan akan ‘gulung tikar’ akibat penurunan minat generasi muda secara drastis. Berdasarkan infromasi Departemen Pendidikan Nasional, selama kurun waktu 2005 sampai Juni 2006[1] saja, sebanyak 40 fakultas pertanian sudah ditutup.  Hal tersebut ditambah dengan penurunnya keberadaan Sekolah Pembangunan Pertanian – Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPP-SPMA) hingga 55 persen.Kondisi tersebut diduga terjadi akibat generasi muda sekarang tidak lagi tertarik pada bidang pertanian, dan lebih memilih bidang pendidikan dan lapangan pekerjaan pada bidang lain.  Cara pandang generasi muda kita akan arti penting pertanian kemungkinan merupakan implikasi dari berbagai kekeliruan pandangan secara nasional akibat masih kurangnya gaung kebijakan pertanian pemerintah, minimnya ekspose dari media mengenai kemajuan bidang pertanian dan prospek bidang pertanian, serta kepercayaan diri dari masyarakat sendiri. 

Negara Indonesia (Masih) Sebagai Negara Agraris-Maritim

Indonesia sampai saat ini masih dikenal sebagai bangsa Agraris-Maritim (Bahari).  Hal tersebut didasarkan bahwa pada kenyataannya kegiatan pertanian (termasuk perikanan darat dan kehutanan) serta kegiatan perikanan di laut telah berkembang pesat, membudaya serta menjadi tumpuan harapan sebagian besar masyarakat Indonesia. Sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan telah memberikan konstribusi yang sangat besar dalam perekonomian nasional sebagai penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), penyumbang devisa, pemenuhan kebutuhan pangan (termasuk gizi), bahan baku industri, sumber alternatif energi yang lestari, penciptaan kesempatan kerja, mendorong pengentasan kemiskinan, dan peningkatan pendapatan masyarakat.  Pertanian juga merupakan pilar utama pelestarian lingkungan hidup atau daya dukung sumberdaya alam dan lingkungan, serta menjadi perekat persatuan bangsa terkait dengan berbagai nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat dalam bidang pertanian.Ketika bangsa Indonesia mulai dihadapkan pada krisis energi, pertanian muncul dengan harapan baru mengenai pemanfaatan energi alternatif berbasis produk pertanian.  Diskusi mengenai energi alternatif ini semakin gencar dilakukan. Penelitian-penelitian mengenai energi alternatif berbasis produk pertanian (minyak jarak, kelapa sawit) mulai dikembangkan kembali.  Dengan demikian tampaknya, pertanian ke depan masih dan akan tetap menjadi sandaran bagi bangsa Indonesia untuk memecahkan berbagai permasalahan yang ada dan yang akan datang.Saat ini pertanian sendiri masih dihadapkan pada berbagai permasalahan yang sangat berat.  Beberapa permasalahan tersebut antara lain adalah lemahnya daya saing, keterbatasan SDM berkualitas, sumberdaya alam yang semakin tertekan, dukungan infrastruktur yang serba terbatas, dan dukungan sektor lain yang serba terbatas.  Banyak tempat di Indonesia dimana sumberdaya alam sektor pertanian belum termanfaatkan secara optimal, sehingga efisiensi dan produktivitasnya masih relatif rendah.  Sebaliknya ditempat lain telah terjadi eksploitasi berlebihan sehingga kualitas sumberdaya alamnya menurun drastis. 

Ironi di Negeri Agraris-Maritim (Indonesia)

Secara alami, pertanian di Indonesia mampu berkembang dan menjadi sandaran bagi sebagian besar masyarakat karena Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar.  Hal tersebut didukung pula dengan kekayaan akan plasma nutfah (sumberdaya genetik) yang besar akibat agroekosistem di Indonesia cocok sebagai tempat tinggal berbagai macam organisme.  Kekayaan tersebut diakui oleh bangsa-bangsa di dunia sebagai salah satu yang terbesar di dunia.  Jumlah penduduk Indonesia pun demikian besar.  Bayangkan jika seluruh penduduk tersebut merupakan SDM yang berkualitas dan menyebar pada berbagai penjuru di tanah air, tentunya akan menjadi kekuatan yang sangat besar dan mampu memanfaatkan berbagai potensi sumberdaya alam dengan sebaik-baiknya untuk kemakmuran bangsa.Namun sayangnya sampai saat ini, pemanfaatan kekayaan tersebut belum optimal.  Justru yang terjadi adalah akibat kesalahan pengelolaan,  terjadi kerusakan lingkungan, erosi, banjir, dan berbagai hal lain seperti pencemaran tanah sebagai media utama produksi hasil pertanian, konversi lahan subur ke non pertanian termasuk pembangunan kawasan pesisir mengakibatkan berkurangnya tingkat produksi dan semakin tergesernya pertanian kepada lahan-lahan yang marginal.  Akibat dari tergesernya usaha pertanian pada lahan-lahan marginal petani mengaplikasikan aplikasi pupuk, ZPT dan pestisida yang belebihan, akibatnya pertanian seringkali dianggap sebagai salah satu penyumbang kerusakan lingkungan terbesar.  Padahal pada kenyataannya sektor pertanian merupakan salah satu pilar utama pelestari lingkungan hidup. Tantangan ini dapat diatasi dengan sistem pertanian yang bersifat lestari (sustainable agriculture), precision farming dan pendekatan masukan rendah pada lahan-lahan marginal melalui perbaikan varietas.Perkembangan teknologi terkait bidang pertanian saat ini memang berlangsung dengan demikian cepat. Perkembangan bioteknologi dan produk-produk hasil rekayasa genetika semakin maju terutama pada tanaman utama seperti jagung, kapas, kedelai, dan padi, serta pada ikan dan ternak.  Dalam hal rekayasa genetika, keberadaan plasma nutfah sebagai sumber transgene sangatlah penting.  Dengan demikian Indonesia bukan tidak mungkin menjadi incaran negara-negara maju untuk diambil kekayaan plasma nutfahnya yang belum mampu dimanfaatkan oleh bangsanya sendiri. 

Pentingnya Kuantitas dan Kualitas SDM Pertanian

SDM yang berkualitas merupakan kunci bagi keberhasilan pembangunan pertanian dan pembangunan nasional.  Agar seluruh potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan dengan optimal, diperlukan SDM pertanian dengan kuantitas dan kualitas yang memadai.  Saat ini kita masih dihadapkan pada permasalahan SDM tersebut. Permasalahan SDM dalam bidang pertanian ditemui pada berbagai tingkat, mulai dari rendahnya tingkat pendidikan di tingkat petani, permasalahan pada tingkat penyuluh pertanian, dan pada tingkat birokrat. Dalam era desentralisasi dan otonomi daerah saat ini, para pihak terkait perlu memiliki wawasan komprehensif kewilayahan yang utuh.  Kesalahan mengambil model pembangunan di daerah  akan berakibat fatal bagi masa depan suatu daerah atau negara secara keseluruhan. Bila melihat fakta bahwa sebagian besar potensi pedesaan di Indonesia adalah berupa potensi sumberdaya pertanian, perikanan, dan kehutanan maka sudah seharusnya instansi-instansi di daerah diisi oleh SDM berkualitas yang memiliki pemahaman akan pertanian. Selain dalam negeri sendiri, perkembangan teknologi yang cepat dalam bidang pertanian juga merupakan tantangan yang harus disikapi dengan baik oleh SDM pertanian. Sebagai contoh pro-kontra mengenai peran bioteknologi yang semakin besar membuat kita serasa di era biology-battle for food and agriculture.  Kedepan (mungkin juga sudah) Indonesia bisa saja akan terlibat didalamnya, baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen.  Baik sebagai pihak yang pro maupun yang kontra, hendaklah sikap tersebut diambil dengan bukti atau landasan ilmu pengetahuan yang kuat, dan bukan oleh politik, feeling, dan ketakutan yang berlebihan. Berbagai kelebihan dan tantangan bidang pertanian tersebut seharusnya menjadikan pendidikan tinggi pertanian sebagai pilihan utama calon-calon mahasiswa kita.  Ketika kemudian yang terjadi justru sebaliknya, maka kita perlu bersama-sama mencari penyebab terjadinya hal ini.  Partisipasi segenap komponen untuk mengangkat kembali citra pertanian dan pendidikan pertanian diharapkan dapat meningkatkan minat terhadap ilmu pertanian di mata generasi muda.  

Mengubah Citra Pertanian Melalui Inovasi Kurikulum di Perguruan Tinggi

Salah satu kemungkinan penyebab mengapa generasi muda tidak tertarik untuk mendalami ilmu pertanian adalah masih adanya kesalahan persepsi mengenai pertanian dan pendidikan pertanian.   Pendidikan pertanian masih dipandang sebagai bidang studi yang erat kaitannya dengan pertanian tradisional, cangkul mencangkul, lumpur sawah, kotor, dan penghasilan rendah yang tidak menjanjikan di masa mendatang.  Padahal sebagian besar materi dan sistem pendidikan telah berubah dengan cepat dan sangat berbeda dengan keadaan tersebut.  Bidang budidaya pertanian misalnya, tidak hanya dengan bercocok tanam di lahan tetapi sudah sangat berkembang pesat teknologinya seperti kultur jaringan, hidroponik dengan berbagai sistem, sistem informasi pertanian, hingga pada teknologi molekular selular seperti rekayasa genetika.   Untuk mengatasi masalah tersebut, Perguruan Tinggi dengan kompetensi utama pertanian sebagai penyelenggara pendidikan tinggi pertanian dituntut mampu memunculkan berbagai inovasi, agar generasi muda tetap meminati bidang pertanian.  Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan inovasi dalam kurikulum di Perguruan Tinggi.  Dalam penyusunan kurikulum, untuk S1 hendaknya didisain agar lulusan dapat memiliki kompetensi yang luas, beragam, namun tidak terlalu spesialis.  Materi perkuliahan perlu secara periodik dievaluasi dan diperkaya dengan berbagai perkembangan ilmu dan teknologi secara global.  Yang tercakup dalam inovasi kurikulum tersebut bukan hanya dalam perbaikan materi (bahan ajar), namun juga metode pengajarannya.  Sebagai contoh, setiap pengajar hendaknya mampu untuk dapat memberikan materi sekaligus memberikan motivasi dan menunjukkan kepada mahasiswa mengenai arti penting pertanian bagi dunia, kontribusinya masa lalu, kini dan mendatang, serta besarnya potensinya untuk terus dikembangkan.  Beberapa Universitas, antara lain Universitas Wisconsin telah mencoba menggunakan pendekatan seperti itu.  Mereka telah melakukan berbagai inovasi dalam beberapa hal:(1)     Mengembangkan mata-mata kuliah ilmu dasar dengan ilustrasi bidang pertanian(2)     Mengembangkan mata-mata kuliah dengan mengeksplorasi keterkaitan antara manusia dan pertanian(3)     Mengembangkan metodologi pembelajaran dengan student centered learning dan problem based learning(4)     Mengembangkan keragaman (latar belakang sosial budaya, gender, bidang keahlian) diantara dosen/pegawai dan stakeholders Mengubah image mengenai pendidikan pertanian memang diakui tidak mudah, karena pada kenyataannya para calon mahasiswa masih melihat kegiatan pertanian dan prospek pengembangannya dari contoh yang mereka temui di lapangan dan disekitar mereka, dan juga penggambaran image pertanian di berbagai media masa yang juga masih jauh dari kesan modern.  Untuk itu, pemerintah, swasta dan lembaga terkait perlu bekerjasama agar perubahan citra pertanian dimata calon mahasiswa dapat tercapai. 

Penutup

Semakin rendahnya peminat generasi muda pada bidang pertanian dapat kita anggap sebagai salah satu bentuk ancaman. Pengaruh hal ini ke depan adalah semakin berkurangnya SDM yang handal dalam bidang pertanian atau terjadi krisis SDM bidang pertanian.  Krisis SDM bidang pertanian tersebut tentu saja akan berdampak terhadap tidak berkembangnya pembangunan pertanian nasional yang berimplikasi dengan pembangunan nasional secara umum. Namun demikian, krisis SDM yang dikhawatirkan bukanlah tanpa solusi.  Dengan kerja keras dan kesungguhan dari semua pihak niscaya kedepan krisis SDM ini dapat dihindari dan justru pembangunan pertanian dapat berlangsung yang pesat.  Strategi pembangunan kedepan harus lebih komprehensif terutama dalam penyediaan sumberdaya manusia yang benar-benar diperlukan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berkesinambungan sehingga dapat menigkatkan kemakmuran bangsa. Dalam memecahkan permasalahan tersebut, diperlukan peran dari berbagai pihak diantaranya pemerintah, Perguruan Tinggi, industri dan keterbukaan dari masyarakat itu sendiri.  Alangkah meprihatinkan (kalau tidak tepat disebut ironis), jika melihat generasi muda pewaris negara ini tidak lagi memandang jati diri bangsanya (pertanian) sebagai prioritas dalam mengembangkan kemampuannya.


[1] Pikiran Rakyat, 8 Juli 2006.  Lembaga Pendidikan Bidang Pertanian Gulung Tikar.

5 Responses

  1. Menurunnya minat pada pertanian mungkin juga akibat tidak adanya pelajaran pertanian secara luas (pertanian tanaman pangan, perikanan, perkebunan, kehutanan, dll) dalam kurikulum SD hingga SMA umum. Mata Pelajaran IPA dan Mulok (muatan lokal) mestinya diupayakan menjadi wahana pengembangan bahan-bahan pelajaran dimaksud. Sungguh ironis, sementara basis kita adalah SDA agraris-maritim, tapi kurikulum pendidikan kita mementingkan hal2 lain yang sebenarnya sudah menjadi bagian hidup sehari-hari, seperti pelajaran agama (dari SD s/d S-1), bahasa Indonesia (dari SD s/d S-1), sejarah bangsa (dari SD-SMA), dlsb. Jadi, tidak heran kalau akhirnya generasi muda sekarang lebih suka bidang2 yang selebritis, seperti politisi, artis dan pembawa acara. Mari kita perjuangkan bersama pemecahannya lewat kurikulum wajib.

  2. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
    Produk ini dikenalkan oleh pemerintah saat itu sejak tahun 1969 karena berdasarkan penelitin bahwa tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan pemerintah tersebut. Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an pada saat Indonesia swasembada pangan. Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia.
    Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) yang sedang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam budidayanya.
    Petani kita karena sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.
    Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI, SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    omyosa,
    papa_260001527@yahoo.co.id

  3. Dulu sarjana pertanian bergelar Ir. (Insinyur).. sekarang ga ada gelar lagi.. SP..(sarjana pertanian)..ini mungkin juga salah satu penurunan mahasiswa baru.. kebanggaanya sama dengan sarjana sosial

  4. Saya sangat setuju dengan penulis. semakin turun minat pertanian, maka akan semakin turun juga ahl-ahli pertanian. Akibatnya, sektor pertanian akan terbengkalai karena kurang SDM yang dapat mengelola pertanian agar berproduksi tinggi dan lestari. oleh karena itu, minat pertanian terhadap generasi muda harus ditingkatkan, agar sektor pertanian juga meningkat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: