Upaya Menjaga Identitas dan Budaya Nusantara melalui Program Pembinaan Akademik dan Multibudaya di Institut Pertanian Bogor

Rimbawan, Bonny P, Awang Maharijaya 
Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang tersusun oleh lebih dari 17.000 pulau dengan posisi wilayah yang strategis (geo-strategis) yakni dipersimpangan lautan Pasifik dan lautan Hindia.  Letak geografis dan kandungan sumberdaya kelautan yang dimiliki Indonesia memberikan pengakuan bahwa Indonesia merupakan negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia (Dahuri, 2002).  Disamping lautan, Indonesia memiliki sekitar 198 juta hektar daratan dengan 120 juta hektar diantara daratan tersebut merupakan areal hutan.  Di dalam hutan tersebut tersimpan berbagai hidupan liar asli Indonesia berupa flora dan fauna.  Panjang garis pantai Indonesia diperkirakan sekitar 54.716 km.Dalam hal keragaman hayati (biodiversity), Indonesia diyakini memiliki 10-20% dari tumbuhan dan satwa yang ada di dunia.  Dalam dokumen ‘Biodiversity Action Plan for Indonesia’ tercatat bahwa Indonesia memiliki sekitar 25.000 tumbuhan berbunga, 515 jenis mamalia (36 persen merupakan jenis endemik), 16% jenis reptil dunia, 17% dari jenis burung dunia dan sekitar 20% jenis ikan di dunia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia merupakan salah satu negara terkaya dalam pemilikan sumberdaya alam (Soehartono dan Ani, 2003).Selain dalam hal pemilikan sumberdaya hayati,  Indonesia dikenal sebagai negara dengan beragam budaya dan kaya akan pengetahuan lokal (indegeneous knowledge) yang sebagian besar belum tercatat dan tertulis dengan baik.  Dalam bumi Indonesia hidup berbagai macam suku dengan budaya, bahasa dan adat istiadat yang berbeda.  Menurut Melalatoa (1995) jumlah suku bangsa di Indonesia berjumlah lebih dari 500 suku bangsa termasuk sub sukunya.  Terbentuknya suatu suku bangsa disebabkan banyak faktor antara lain keadaan geografi dan sistem budaya dalam suatu kelompok masyarakat.  Kebiasaan dan tradisi atau adat istiadat dari setiap suku bahkan sub suku tersebut sangat beragam dan memiliki variasi antar daerah.  Sebagai contoh dalam hal kesenian gamelan, dikenal di Indonesia ada gamelan Sunda, Jawa, dan Bali.  Contoh yang lain misalkan kain batik.  Batik merupakan kerajinan kain di Indonesia yang dihasilkan di beberapa daerah di Indonesia.  Masing-masing daerah memiliki corak dan warna yang khas.  Daerah yang dikenal menghasilkan kerajinan batik adalah Yogyakarta, Surakarta, Madura, Purbalingga, Cirebon, Palembang, dan Banjarmasin. Keragaman bukan hanya berdasarkan asal daerah namun juga kegunaan, misalnya untuk upacara pernikahan, busana raja, busana harian memiliki corak yang berbeda. Dari ilustrasi tersebut tergambar bahwa satu jenis kesenian saja bisa berbeda antar suku sehingga jumlah keragaman seni budaya di Indonesia akan melebihi jumlah suku bangsa yang ada di Indonesia. Dengan demikian dapat dibayangkan banyaknya kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia. 
Mahasiswa Sebagai Agen Pemersatu Bangsa
Tidak dapat dipungkiri bahwa keragaman tersebut juga seringkali menjadi barier pemersatu bangsa Indonesia.  Pada zaman penjajahan, bangsa Indonesia sangat mudah di adu domba oleh penjajah sehingga perang adat pun seringkali terjadi.  Hal inilah yang menjadikan Indonesia relatif lama berada dalam masa penjajahan.  Bahkan pada awal abad 20 hal tersebut masih berlangsung.  Orang Jawa pada waktu itu memiliki organisasi sendiri, orang Sumatera memiliki organisasi sendiri, orang Kalimantan memiliki organisasi sendiri, bahkan sesama penduduk pulau Jawa juga memiliki perkumpulan masing-masing yang bersifat eksklusif (Gondomono dan Restati, 2004)Disadari kemudian bahwa peran pemuda dalam mempersatukan bangsa Indonesia sangat menonjol.  Dapat dikatakan bahwa perjuangan Indonesia yang modern dimotori oleh para pemuda dengan mengandalkan semangat sebagai bangsa Indonesia yang bersatu.  Setelah kongres pemuda yang menghasilkan sumpah pemuda, perjuangan rakyat Indonesia berubah dari perjuangan lokal yang lebih bersifat perang adat dan kedaerahan menjadi perlawanan yang bersifat nasional (Dephan RI, 2003).Di masa kini pemuda termasuk mahasiswa memiliki peranan strategis yang mengarahkan dan menentukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  Peranan tersebut telah dibuktikan secara konkrit oleh lembaran sejarah perjuangan pergerakan mahasiswa yang jelas, tegas dan kritis berlandaskan pada sisi moral, intelektual, humanis dan rasional.  Gerakan mahasiswa senantiasa memberikan arti, nuansa, irama dan lagu yang sepadan dengan kebutuhan zaman yang kontemporer.  Mahasiswa merupakan mass power sekaligus merupakat asset nasional yang merupakan calon generasi penerus bangsa.   
Institut Pertanian Bogor Sebagai Miniatur Indonesia
Perguruan tinggi diakui sebagai ‘moral force’ dan tempat lahirnya sumberdaya manusia yang mempunyai daya nalar tinggi, bebas dari segala bentuk intervensi dan sangat peka dalam menanggapi setiap perubahan yang terjadi.  Dinamika intern kampus seringkali dinilai dapat merefleksikan dinamika kehidupan masyarakat di luar kampus, begitu juga sebaliknya.  Perguruan tinggi disebut memiliki posisi strategis dalam mengisi dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.  Seperti halnya Indonesia, keanekaragaman merupakan ciri utama dinamika kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) khususnya kemahasiswaan.  Hal ini dapat terjadi karena IPB menerapkan perekrutan mahasiswa baru lewat jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) terutama untuk strata S1 yang merupakan ciri khas IPB.  Lewat jalur ini IPB berpotensi menjaring calon-calon mahasiswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia yang diundang untuk masuk IPB tanpa tes.  Selain melalui sistem penerimaan jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) IPB komposisi asal daerah mahasiswa IPB semakin beragam.  Jalur seleksi masuk IPB yang lainpun yakni jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), Prestasi Internasional dan Nasional (PIN) juga seringkali diikuti oleh siswa SMU dari berbagai daerah di Indonesia.Pada Tahun Akademik 2004 tercatat jumlah mahasiswa program sarjana sebanyak 14.014 orang, program magister 2.812 orang, dan program doktor   1.380   orang.  Sementara mahasiswa program diploma berjumlah 8.871. orang sehingga jumlah total mahasiswa IPB adalah  27.077 mahasiswa.    Pada tahun penerimaan 2004/2005 ini persentase mahasiswa baru yang diterima melalui jalur USMI adalah sebesar 70% (1958 mahasiswa), SPMB 23% (770 mahasiswa), BUD 3% (73 mahasiswa) serta kurang 1% (5 mahasiswa) berasal dari jalur PIN. Komposisi IPB pun seperti layaknya Indonesia yang terdiri atas berbagai daerah dan suku di Indonesia.  Perkembangan komposisi mahasiswa baru IPB berdasarkan asal daerah dapat dilihat pada Tabel 1.  Jika dirata-rata selama kurun waktu tahun penerimaan 2000/2001 – 2004/2005 komposisi mahasiswa baru IPB berdasarkan asal daerah di dominasi oleh Jawa Barat 41,6%, DKI Jakarta 18,4%, Sumatera 14,2%, Jawa Tengah dan DIY 13,9% dan Jawa Timur 6,5% serta sisanya 5% berasal dari berbagai daerah lain di Indonesia.  Tingginya persentase mahasiswa asal Jawa Barat dan DKI ini diduga disebabkan kemudahan akses informasi mengenai IPB dari kedua daerah tersebut dibandingkan dengan daerah lain.  Kedekatan dalam transportasi juga diduga menjadi salah satu faktor pendorong kedua daerah tersebut dominan dalam komposisi mahasiswa IPB.Data dari Tabel 1 memang dapat menggambarkan komposisi mahasiswa IPB berdasarkan asal daerah, namun jika dilihat berdasarkan suku atau etnis disetiap asal daerah saja dapat terdiri dari beragam suku atau etnis.  Misalkan DKI Jakarta jika dicermati, pada kenyataannya mahasiswa yang berasal dari Jakarta terdiri dari beberapa suku seperti Betawi, Batak, Jawa, Madura dan beberapa suku atau etnis lain. Hal tersebut setidaknya hampir sama dengan penyebaran penduduk di Indonesia dimana sebagian besar berada di pulau Jawa yang terdiri atas berbagai suku bangsa atau etnis.  Keragaman tersebut tentu saja akan diikuti oleh keragaman kemampuan akademik, keragaman kemampuan ekonomi dan keragaman lainnya.   
Tabel 1.  Rekapitulasi Mahasiswa Baru IPB Berdasarkan Asal Daerah
Asal Daerah Tahun Masuk
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
Sumatera 475 399 330 397 422 409 356 451
DKI Jakarta 456 542 523 542 573 514 532 470
Jawa Barat 949 1074 1049 1164 1083 1246 1234 1210
Jawa Tengah dan DIY 302 365 377 482 448 354 351 350
Jawa Timur 153 159 168 222 216 175 151 170
Kalimantan 33 22 24 31 30 18 19 40
Nusa Tenggara dan Bali 30 25 29 31 24 30 38 45
Sulawesi 59 43 32 44 33 32 36 46
Lainnya 13 13 14 12 12 11 208 23
Total 2470 2642 2546 2925 2805 2789 2726 2805

Sumber: TPB-IPB  dalam angka 2004/2005 diolah 

Disamping keragaman dalam masalah sosial budaya tersebut, mahasiswa TPB-IPB juga memiliki latar belakang kondisi ekonomi yang beragam.  Berdasarkan data pada beberapa tahun terakhir, sekitar 52,4% mahasiswa TPB-IPB berasal dari orang tua dengan penghasilan per bulan antara Rp. 2.000.000 – Rp. 4.000.000,  6,3% dengan penghasilan orang tua lebih dari Rp. 5.000.000, dan 17,8% antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.250.000 dan sekitar 0,3% dengan penghasilan orang tua kurang dari Rp. 500.000 per bulannya.Latar belakang pendidikan dan pekerjaan  orang tua juga tampaknya berperan penting dalam pembentukan karakter mahasiswa.  Data menunjukkan bahwa 32,7% orang tua mahasiswa berpendidikan SLTA, 25,1% berpendidikan Sarjana, 1,7% berpendidikan tingkat Doktoral dan 1,2% tidak tamat SD.  Dalam hal pekerjaan orang tua, 39,1% orang tua mahasiswa TPB-IPB adalah Pengawai Negeri Sipil (PNS), 14,2% bergerak di bidang swasta, 2,1% TNI/POLRI dan 1,7% sebagai petani/nelayan.  

Sumber Keragaman Mahasiswa IPB

Sejak diberlakukannya 30 tahun yang lalu hingga saat ini, sistem penerimaan mahasiswa baru IPB melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) merupakan jalur utama dalam sistem penerimaan mahasiswa baru strata sarjana.  Dalam jalur penerimaan tersebut, seleksi penerimaan tidak didasarkan atas test (tanpa melalui test). Seleksi dilakukan oleh IPB berdasarkan berkas-berkas lamaran yang dikirim oleh siswa.  Komitmen IPB mengenai Education for Everyone yang dicanangkan sejak tahun 1973 telah melahirkan sistem penerimaan tersebut.  Dalam tulisan Prof. H. Andi Hakim Nasution (Rektor IPB tahun 1978-1987) dalam buku beliau yang berjudul Pola Induksi Seorang Eksperimentalis dikemukakan bahwa untuk menemukan calon mahasiswa yang berbakat dari suatu lingkungan luas yang beragam (Indonesia), yang pertama harus ditemukan adalah mereka yang cerdas.  Menurut Nasoetion (2002) calon mahasiswa seperti tersebut di atas dapat ditemukan dari mereka yang prestasinya di sekolah cukup tinggi.  Namun ukuran prestasi itu di Indonesia sangat beragam.  Oleh sebab itu penilaian prestasi harus dibandingkan terhadap keadaan lingkungan yang sama.  Di Indonesia, kualitas pendidikan masih sangat beragam antar provinsi serta antar daerah di satu wilayah propinsi.  Sering kali juga dilaporkan masih ada daerah yang karena keterbatasan sarana transportasi dan sarana penunjang lain sehingga belum memiliki sekolah menengah umum.  Dengan kendala yang sama, kesempatan bagi mahasiswa daerah untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi menjadi semakin kecil dan kemungkinan diterimanya juga kecil.  Hal tersebut merupakan pemicu IPB untuk mengembangkan metode seleksi berdasarkan local performance dari sekolah menengah umum di Indonesia (Nasoetion, 2002).Melalui penelusuran minat dapat dilihat ketekunan belajar calon mahasiswa dari data prestasi akademik selama enam caturwulan.  Dari data tersebut dapat dilihat juga tingkat motivasi belajarnya dibandingkan teman-temannya.  Apabila hal-hal tersebut dilengkapi dengan prestasi ekstrakurikuler apa yang telah diraihnya dengan baik, misalnya dalam lomba-lomba nasional tentang penelitian ilmiah, olimpiade matematika, fisika, biologi, dan kimia , maka selain keterangan mengenai kecerdasan juga akan terkumpul keterangan tentang ketekunan bekerja serta kreativitas (Nasoetion, 2002).  Jika dibandingkan dengan sistem penerimaan dengan ujian masuk, tentunya sistem seleksi tersebut memiliki kelebihan karena berbagai informasi mengenai calon mahasiswa dapat diketahui, bukan hanya atas dasar prestasi belajar yang diukur sekejap dari uji pilih ganda.

Sejalan dengan Moto IPB “Mencari dan Memberi yang Terbaik”,  IPB selalu mengembangkan inovasi dalam penjaringan/penerimaan mahasiswa baru, terutama untuk meningkatkan pemerataan asal daerah mahasiswa dan sebaran lulusan.  Sejalan dengan  kebijakan otonomi IPB dan Otonomi Daerah, serta semakin menguatnya visi pembangunan pertanian dalam arti luas sebagai platform pembangunan ekonomi daerah, sejak tahun 2003 IPB mengembangkan inovasi penerimaan mahasiswa baru melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD).

Penerimaan mahasiswa jalur BUD adalah suatu cara penerimaan mahasiswa program sarjana IPB yang direkomendasikan dan dibiayai oleh pemerintah Provinsi, Kab/Kota, Lembaga dan Instansi lainnya, yang bila lulus diharapkan kembali ke daerah asal untuk membangun daerah. Dengan semakin banyaknya SDM pertanian yang handal di semua daerah, diharapkan semakin mudah untuk mewujudkan pertanian sebagai platform pembangunan sebagai basis ekonomi kerakyatan di daerah.

Program BUD dimaksudkan sebagai wadah untuk menggali dan mengembangkan potensi daerah dalam bidang SDM pertanian dalam arti luas. IPB yakin masih banyak calon mahasiswa berprestasi yang belum memiliki kesempatan secara merata untuk mengembangkan potensi dirinya ke jenjang pendidikan tinggi yang berkualitas di bidang pertanian dalam arti luas. Melalui program BUD diharapkan daerah akan lebih mampu berperan dan memberikan sumbangsih nyata bagi pembangunan nasional berbasis kerakyatan karena salah satu tolak ukur keberhasilan pembangunan nasional adalah berpangkal dari keberhasilan daerah dalam membangun kualitas SDM yang dapat dihandalkan untuk kesejahteraan rakyatnya. 

Program Pembinaan Akademik dan Multibudaya

Seperti telah dijelaskan diatas, keragaman mahasiswa IPB tidak hanya berdasarkan tempat asal mereka, tetapi juga latar belakang sosial, budaya dan kondisi ekonomi.  Keadaan ini perlu disikapi antara lain dengan mempersiapkan mahasiswa untuk siap menghadapi berbagai keragaman tersebut sejak mereka masuk IPB.  Bimbingan dan konseling perlu diberikan kepada mereka bila ada masalah yang dihadapi.  Budi pekerti mahasiswa perlu dibina untuk mendidik mereka menjadi manusia yang bermoral baik dan berdisiplin.  Kesulitan ekonomi yang mereka hadapi perlu dibantu dengan upaya pemberian dan pencarian sumber beasiswa secara terus menerus.  Kesadaran untuk hidup sehat perlu terus dibina untuk menunjang keberhasilan mereka selama melaksanakan pendidikan di IPB. 

Secara umum, mahasiswa akan sangat intens berinteraksi dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar (kuliah dan praktikum), kegiatan ekstra-kurikuluer dan kegiatan sehari-hari sebagai makhluk sosial.  Hal tersebut didasarkan bahwa untuk membentuk manusia seutuhnya, kegiatan akademik murni tidaklah cukup.  Menurut Sabiham (1996), faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi sistem pendidikan secara keseluruhan dapat ditekan dengan usaha yang dilakukan melalui pengembangan kegiatan kemahasiswaan. Mahasiswa perlu diberikan kesempatan untuk mengenal hal-hal lain di luar kegiatan akademiknya.  Empat pilar pendidikan UNESCO menyebutkan pendidikan merupakan wadah untuk ‘learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together’ .  Di IPB dikembangkan lima pilar pendidikan yaitu ‘academic professionalism, social awareness, environmental concern, enterpreneurship, serta moral and ethics’.   Dengan demikian didasarkan kepada background mahasiswa baru yang beragam, perlu kiranya dalam proses adaptasi mendapat pembinaan.

Di IPB, kegiatan akademik bagi mahasiswa baru dipusatkan di kampus IPB Darmaga.  Pada awal belajar di IPB mahasiswa akan diberikan ilmu-ilmu dasar pada Program Pendidikan Tingkat Persiapan Bersama.  Mahasiswa terlebih dahulu harus menguasai bidang ilmunya dan tahu bagaimana caranya mengembangkan ilmu yang akan diperolehnya.  Oleh karena itu ia harus pernah mengikuti dengan berhasil semua mata kuliah ilmu dasar yang mendasari ilmu-ilmu terapan yang diperlukan dalam bidang ilmunya. Secara umum mata kuliah dasar yang diberikan pada Tingkat Persiapan Bersama IPB adalah matematika, fisika, kimia, biologi, sosiologi, ekonomi dan bahasa asing modern (Nasoetion, 2002).  Khusus untuk mahasiswa jalur USMI, diberikan semacam program matrikulasi sebagai usaha untuk menyeragamkan tingkat pemahaman mahasiswa pada suatu mata kuliah dasar mengingat mahasiswa baru berasal dari sekolah dengan berbagai kualitas penyelenggaraan pendidikan. 

Selain itu dalam pelaksanaan matrikulasi ini mahasiswa akan melakukan berbagai proses adaptasi terutama mengenai cara berkomunikasi dengan dosen dan sesama mahasiswa.  Kita ketahui bahwa dialek berbahasa antar daerah sangat beragam.  Acapkali mahasiswa yang berasal dari daerah yang berbeda dengan dosen mata kuliah akan mengalami kesulitan dalam memahami kuliah yang diberikan dikarenakan tidak terbiasa dengan dialek yang diucapkan oleh dosen yang bersangkutan.

Peran suatu perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi berbasis pertanian secara moril sangat dekat dengan keseharian (livelihood) dari sebagian besar masyarakat petani, peternak dan nelayan di Indonesia.  Oleh sebab itu dalam rangkaian kegiatan belajar mengajar, selain kuliah semua mahasiswa diharuskan mengikuti  praktikum, praktek lapang (Chozin, 2004a), kuliah kerja nyata/profesi, pemagangan serta tugas akhir. 

Kegiatan  tersebut  dinilai memiliki nilai strategis dalam membentuk kompetensi lulusan IPB dalam penguasaan keilmuannya, serta memberikan soft skill pendukung diantaranya ulet, mau kerja keras, tangguh dalam bekerja di lapangan, dan lain-lain.   Pada kegiatan ini mahasiswa benar-benar akan berinteraksi secara dewasa dengan masyarakat luas.   Tanpa adanya persiapan yang matang seringkali kegiatan-kegiatan semacam ini tidak dapat berlangsung dengan sukses. 

Untuk dapat melaksanakan kegiatan tersebut di atas dengan baik, akan lebih baik jika mahasiswa yang bersangkutan mengenal terlebih dahulu tipologi masyarakat sekitar dimana ia melaksanakan praktek lapang, magang, kuliah kerja nyata/profesi serta tugas akhir.  Bagi mahasiswa IPB, hal ini sangat mudah dilakukan mengingat mahasiswa IPB berasal dari berbagai etnis dan daerah di tanah air.  Oleh sebab itu, diperlukan pola pembinaan yang baik bagi mahasiswa baru untuk dapat memanfaatkan  keunggulan itu serta menjaga entitas budaya nusantara pada umumnya.

Program Pembinaan Akademik dan Multibudaya  (PPAMB) dilaksanakan dibawah koodinasi Badan Pengelola Asrama (BPA) TPB IPB. Adapun visi dari BPA TPB-IPB adalah: “Menciptakan atmosfer yang kondusif bagi pengembangan intelektual, kepribadian, minat-bakat dan solidaritas mahasiswa baru sebagai generasi penerus yang memegang kebenaran dan memahami kemajemukan”.  Sejalan dengan itu, BPA TPB-IPB mengemban misi penting yang meliputi: (1).Menyelenggarakan program kokurikuler dan ekstrakurikuler untuk mendukung kegiatan akademik, potensi dan jati diri mahasiswa, (2).Menumbuhkan semangat kerjasama dan kompetisi dengan konsep dasar maju bersama.

 Pada garis besarnya kegiatan PPAMB dimaksudkan untuk melatih mahasiswa untuk hidup disiplin terhadap aktivitas kesehariannya; menumbuhkan mahasiswa untuk dapat hidup bersama, saling mengenal, saling memahami dan saling membantu; membimbing mahasiswa menjaga kesehatan baik pribadi maupun lingkungan sekitar; dan melatih mahasiswa untuk kreatif dan pandai membagi waktunya.  Point pembinaan akademik mengingat adanya keragaman yang tinggi terhadap kualitas sekolah asal serta pembinaan multibudaya mengingat adanya keragaman etnis merupakan fokus pembinaan.Sebagai prasyarat utama, mahasiswa asrama TPB yang berasal dari berbagai latar belakang, berbagai kebiasaan, diharuskan tinggal bersama di Asrama selama satu tahun.  Program pengenalan dalam asrama diharapkan dapat mempercepat proses adaptasi sehingga proses belajar mengajar di TPB dapat diikuti dengan baik.  PPAMB meliputi:1.      Program Pembinaan Intelektual dan Penalaran yang terdiri dari: Pembinaan rohani, responsi dan ‘tryout’, motivation training, pengenalan bahaya narkoba, pengenalan dunia kerja dan cinta perpustakaan.2.      Program Pengembangan Minat dan Bakat yang terdiri dari: Foreign Language Course (kursus bahasa asing), Klub Agribisnis, Klub Olah Raga, Klub Seni dan Budaya serta Klub ‘Fit and Fun’3.      Program Peningkatan Kepedulian Sosial yang terdiri dari: ‘Social gathering’, asrama berhias, pengelolaan sampah, paket kegiatan silaturahmi, bakti sosial dan wisata alam peduli lingkungan. Selain program tersebut di atas, BPA TPB-IPB mengadakan atau memfasilitasi pelayanan konseling yang melibatkan Tim Bimbingan Konseling IPB.  Para Manajer Unit dan Senior Residence pun dibekali dasar-dasar pembimbingan dan koseling.  Melalui pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan dapat membantu mengatasi masalah yang dihadapi mahasiswa di tingkat pertama.  Hal ini penting karena pada umumnya di tingkat pertama mahasiswa mengalami proses transisi dan adaptasi dalam banyak hal untuk menjadi orang dewasa yang mandiri.Meskipun belum sempurna dalam pelaksanaan dan pencapaian target, PPAMB sebagai suatu program sangat potensial untuk  membentuk karakter suatu generasi bangsa.  Berdasarkan evaluasi pelaksanaan PPAMB tahun 2003/2004 di asrama TPB-IPB menunjukkan bahwa respon mahasiswa baru terhadap kegiatan-kegiatan dalam program tersebut sangat tinggi (Tabel 2). Dimasa yang akan datang diharapkan PPAMB bagi mahasiswa baru di IPB dapat dikembangkan sebagai suatu model pembinaan dan penyiapan bagi generasi bangsa untuk menjadi pelopor dan pemimpin yang handal.Bentuk aktivitas keseharian atau terjadwal di asrama meliputi bangun pagi bersama, senam pagi bersama, aktifitas kebersihan asrama, makan malam bersama, aktivitas keagamaan, pengaturan jam televisi dan malam, dan out bond. Aktivitas-aktivitas tersebut diharapkan dapat membentuk dan mendewasakan sikap mental mahasiswa, karena mahasiswa dilatih disiplin, bertanggungjawab, bekerjasana dalam tim, dan berlatih kepemimpinan dalam suasana rekreasi dan penuh kekeluargaan.  Secara umum program kerja tersebut akan dikoordinir oleh Badan Pengelola Asrama bekerjasama  Manajer Unit, Senior Residence, Badan Eksekutif Mahasiswa dan pihak Direktorat Kemahasiswaan IPB.

Semua pihak terkait tersebut memiliki peran yang penting dalam keberhasilan pembinaan mahasiswa TPB-IPB.  Dalam kehidupan keseharian di Asrama, peran BPA, Manajer Unit dan Senior Residence tampaknya lebih menonjol.  Salah satu kunci keberhasilan asrama adalah komitmen dari masing-masing pihak.  BPA TPB-IPB tetap memegang prinsip kekeluargaan dan kebersamaan dalam melakukan koordinasi dengan setiap unsur pengelola dan senantiasa menjaga kelancaran dan ketertiban dalam hal administrasi, sarana-prasarana, kebersihan, keamanan dan kondisi umum lainnya.

Tabel 2.  Rekapitulasi Program Pembinaan Akademik dan Multibudaya Asrama

      TPB-IPB tahun Ajaran 2003/2004

Program Intensitas Kegiatan Partisipasi Mahasiswa
Target Realisasi Target Realisasi
Pembinaan Mental Spiritual        
1.  Pembinaan Kerohanian 10 9 (90%) 2726 2160 (80%)
2.  Bakti Sosial 1 1 (100%) 2726 2000 (74%)
3.  Achievement Motivation Training 4 4 (100%) 1000 500 (50%)
4.  Social Gathering 10 7 (70%) 2726 2200 (81%)
5.  Pelayanan Konseling *   2726 1500 (55%)
Pembinaan Fisik dan Kesehatan        
1.  Olah Raga Bersama 4 2 (50%) 2726 1755 (65%)
2.  Lomba Kebersihan Lorong dan Kamar 4 3 (75%) 2726 1500 (55%)
3.  Out Bond 2 2 (100%) 1000 500 (50%)
Pembinaan Akademik dan Wawasan        
1.  Klinik Studi (Responsi) 18 18 (100%) 300 300 (100%)
2.  Penghijauan Asrama 1 1 (100%) 200 150 (75%)
3.  Kursus Bahasa Asing 20 18 (96%) 100 180 (180%)
4.  Pengenalan Dunia Kerja 1 1 (100%) 2726 2025 (75%)
5.  Pemutaran Film IPTEKS 6 5 (83,3%) 200 150 (75%)
Pembinaan Kreativitas Mahasiswa        
1.  Pengelolaan Sampah Organik 1 1 (100%) 120 100 (83%)
2.  Pelatihan Kertas Daur Ulang 1 1 (100%) 120 100 (83%)
3.  Workshop Program Kreativitas      Mahasiswa (PKM) 1 1 (100%) 200 70 (35%)
Pembinaan Sosial Budaya        
1.  Etika Kampus dan Akademik 1 1 (100%) 2726 2726 (100%)
2.  Festival Budaya 1 1 (100% **  

Keterangan: * dilaksanakan setiap saat, ** melibatkan mahasiswa luar TPB-IPB 

Sementara itu peran Manajer Unit terutama difokuskan pada perancangan program-program pembinaan mahasiswa di asrama dan sebagai penanggung jawab dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan.  Disamping itu, Manajer Unit juga dituntut untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh individu mahasiswa atau kelompok mahasiswa.  Dalam hal ini perannya sebagai pengganti orang tua di asrama menjadi dasar dalam setiap pembinaan yang diberikan.

Adapun peran Senior Residence sangatlah penting.  Sebagai sebuah keluarga di asrama, Senior Residence berperan sebagai kakak bagi mahasiswa.  Berbagai permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa senantiasa diselesaikan bersama dengan Senior Residence atau diteruskan pada Manajer Unit maupun BPA.  Senior Residence dituntut untuk memiliki komitmen yang tinggi serta sifat dan sikap tenggang rasa yang tinggi.  Hal ini terkait dengan antara lain penanganan mahasiswa yang sakit yang dapat terjadi sewaktu-waktu baik siang maupun malam hari. 

Pada akhir pendidikan pada tahun pertama, diadakan acara Gebyar Nusantara (Festival Budaya Daerah).  Gebyar Nusantara merupakan rangkaian acara yang terdiri dari pameran kesenian dan kerajinan setiap daerah yang memiliki perwakilan mahasiswa di IPB, berbagai lomba serta atraksi dan pentas seni.  Acara ini tidak hanya melibatkan mahasiswa baru saja namun diikuti oleh segenap civitas IPB.  Dengan adanya pameran dan pertunjukkan seperti itu diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi mahasiswa lain daerah untuk mengenal dan mengetahui keragaman kesenian dan kebudaan tanah air serta menumbuhkan kecintaan pada budaya nusantara.  Dengan adanya kecintaan tersebut  yang pada akhirnya akan muncul kebanggaan untuk melestarikan kesenian maupun kebudayaan luhur nusantara.  Hal ini penting untuk menghindari pengaruh negatif kebudayaan asing. 

Peran Kurikulum dalam Proses Pembinaan

Peran kurikulum dalam proses pembinaan sangat penting sehingga kurikulum perlu dirancang sedemikian rupa sehingga menunjang pembinaan.  Di IPB hal ini diwadahi dengan adanya Program Pendidikan Tingkat Persiapan Bersama dimana mahasiswa baru IPB mengikuti mata kuliah dasar secara bersama-sama.Kebijakan IPB untuk menerapkan kurikulum mayor-minor IPB guna menggantikan Kurikulum Nasional (Kurnas 1994) dianggap sejalan dengan pola pembinaan mahasiswa.  Kurikulum mayor-minor IPB memungkinkan mahasiswa untuk memperluas wawasan dalam melaksanakan suatu profesi, menambah kompetensi lulusan agar mampu melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu, meningkatkan fleksibilitas mahasiswa dalam menentukan rencana studinya sesuai dengan bakat dan minatnya, serta memberikan peluang yang lebih bagi mahasiswa untuk berinteraksi dalam rangka pengembangan soft skill (Chozin, 2004b).Kurikulum mayor-minor IPB mempunyai daya respon yang tinggi terhadap learning needs mahasiswa. Dalam pelaksanaan sistem tersebut mahasiswa akan menjadi subjek dalam proses pendidikannya dengan merencanakan, merancang dan memutuskan keahlian utama dan keahlian penunjang apa sesuai dengan minat dan kemampuannya.  Kalaupun beberapa mata ajaran  penunjang tersebut bukan dalam suatu paket yang terstruktur (minor), mahasiswa dapat merancang mata-mata ajaran penunjang yang berasal dari luar departemennya maupun lintas fakultas yang disebut dengan supporting courses.  Meskipun demikian, karena mahasiswa dalam hal ini masih dalam proses ‘pematangan’ maka peran Pembimbing Akademik dirasa masih diperlukan. Dengan adanya hal tersebut, peluang mahasiswa untuk berinteraksi dengan mahasiswa lain dari luar departemen dan fakultasnya akan lebih tinggi.  Hal tersebut tentu saja akan sangat berguna untuk menunjang pembentukan soft skill dari mahasiswa yang bersangkutan terutama dalam hal hidup bersama, toleransi dan komunikasi yang akan sangat menunjang lulusan dalam bermasyarakat dan beradaptasi di lingkungan kerja.  Hal ini sangat sejalan dan mendukung program pembinaan akademik dan mulitibudaya yang dilaksanakan selama di TPB. 

Penutup

Mahasiswa sebagai sivitas akademika sebelum dan setelah lulus akan memiliki peran ganda yaitu sebagai insan akademis dan juga sebagai anggota masyarakat.  Sebagai insan akademis, mereka harus mempunyai sikap dan tindakan yang didasarkan pada norma-norma ilmiah, sedangkan sebagai anggota masyarakat mereka harus peka serta senantiasa dapat menyesuaikan diri dimanapun ia berada.Program Pembinaan Akademik dan Multibudaya (PPAMB) bagi mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor memiliki nilai penting dan strategis dalam penyiapan dan pengembangan generasi penerus bangsa Indonesia yang sangat beragam kondisi sosial, budaya dan ekonominya.Sejalan dengan visi dan misi Asrama Mahasiswa TPB-IPB sebagai wadah implementasi PPAMB, diharapkan keragaman yang dimiliki oleh mahasiswa TPB-IPB dapat dikembangkan menjadi potensi bangsa yang positif dan unsur pemersatu bangsa yang dapat meningkatkan daya saing bangsa di masa mendatang. 


Daftar Pustaka 
___________, 2004a.  Laporan Tahunan Badan Pengelola Asrama TPB Tahun 2003. Institut Pertanian Bogor. Bogor. ___________, 2004b.  Laporan Tahunan Institut Pertanian Bogor Tahun 2003. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

___________, 2005.  TPB Dalam Angka.  Direktorat Program Pendidikan Tingkat Persiapan Bersama. IPB. Bogor.

Chozin, M.A. 2004a.  Menggagas Arah Kebijakan Pengelolaan Kebun dan Lahan Percobaan dalam Meningkatkan Mutu Kegiatan Akademik.  Makalah pada Lokakarya Revitaslisasi Kebun dalam Lahan Percobaan IPB. Bogor.

Chozin, M.A. 2004b.  Proses Rekayasa Ulang Program Pendidikan di Institut Pertanian Bogor.  Makalah pada Workshop Pengembangan Kurikulum IPB-Earth University. Bogor.

Dahuri, R. 2002.  Paradigma Baru Pembangunan Indonesia Berbasis Kelautan. Orasi Ilmiah Guru Besar. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.

Dephan RI. 2003.  Konggres Pemuda Sebagai Pemersatu Bangsa Indonesia.  http://www.dephan.go.id. 4/14/2005. Gondomono, dan Restati G. 2004. 

Mengusung ‘Nasionalisme’ dari Bangku Sekolah.  Kompas, 22 Mei 2004.

Melalatoa, M.J. 1995.  Enskiklopedi Suku Bangsa Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Nasoetion, A.H. 2002.  Pola Induksi Seorang Eksperimentalis. IPB Press. Bogor.

Sabiham, S. 1996.  Program Kegiatan Kemahasiswaan Terpadu Fakultas Pertanian IPB. Makalah prosiding dalam Lokakarya Nasional Pendidikan Tinggi Masa Depan. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Soehartono, T. dan Ani M. 2003.  Pelaksanaan Konvensi Cites di Indonesia.  Japan International Coorperation Agency. Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: