Akankah ini membuat para Profesor & Doktorat Dosen yg tinggal LN pulang kampung????

Satu pertanyaan yang muncul pada milist kali ini cukup aneh dan mengagetkan saya kembali.  Begini judul postingannya: “Akankah ini membuat para Profesor & Doktorat Dosen yg tinggal LN pulang kampung????”. Apakah memang Indonesia tidak lagi menarik untuk ditinggali terutama bagi profesor dan doktor?

Pertanyaan kedua itulah yang berkecamuk di benak saya kembali. Pertanyaan ini berkaitan erat dengan postingan lain mengenai profesor termuda AS yang ternyata orang Indonesia (Prof. Nelson Tansu). Tanpa bermaksud merendahkan dan lain-lain, tapi ada satu hal yang sangat mengganggu pikiran saya yaitu ketika beliau menjawab pertanyaan kenapa belum mau pulang ke Indonesia.

Profesor Nelson Tansu yang lahir di Medan , 20 October 1977 dan merupakan Profesor pertama di Lehigh University, mengatakan bahwa melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika, ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia.  Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia . Ia menyatatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak perguruan tinggi, dan sebagainya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya waktu lagi untuk melakkukan riset dan membuat publikasi ilmiah. Bagaimana perguruan tinggi Indonesia bisa dikenal di luar negeri jika tidak pernah menghasilkan publikasi ilmiah secara internasional? 

Prof. Tansu juga menjelaskan kalau di US atau Singapore, gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia . Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di Indonesia . Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia sendiri sibuk “cari makan”.

Kembali kepada postingan yang pertama.  Postingan dengan  judul “Akankah ini membuat para Profesor & Doktorat Dosen yg tinggal LN pulang kampung????” ini memuat mengenai wacana kenaikan gaji profesor di Indonesia sebesar 7-8 juta/bulan, karena ke depannya akan ada tambahan satu kali gaji pokok (sebagai PNS) per bulan.   Postingan semacam ini semakin menambah daftar “keluhan-keluhan” mengenai penghasilan bagi profesi-profesi penting di Indonesia.  Postingan-postingan yang menurut saya (mudah-mudahan tidak) dapat mendegradasi motivasi bagi para generasi muda untuk menekuni profesi-profesi yang sebetulnya sangat penting di Indonesia. 

Harus diakui bahwa pada satu sisi, pemerintah belum berhasil memberikan apresiasi yang pantas kepada profesi-profesi yang penting di Indonesia.  Sebut saja misalkan guru/dosen dan petani.  Dua contoh ini saya sebut karena cukup dekat dengan keseharian saya.  Hampir setiap saat kita mendengar keluhan mengenai profesi guru baik dari pendapatan, tingkat pendidikan, kualitas, guru berprofesi ganda (tukang ojek, pemulung), dan lain-lain.

Sementara isu petani juga selalu dihubungkan dengan kekotoran, kemiskinan, kebodohan, dan sebagainya. Dengan penurunan image seperti itu, ke depan akan semakin jarang ada generasi muda terbaik yang mau menekuni posisi sebagai guru/dosen ataupun petani. 

Efek jangka panjangnya akan sangat buruk. Dengan kualitas pendidik yang semakin rendah akibat minat generasi muda terbaik akan profesi guru/dosen kurang, maka kualitas pendidikan dan riset atau pengembangan pendidikan secara umum di Indonesia akan semakin rendah, output dari pendidikan di Indonesia akan rendah (degradasi generasi)/SDM Indonesia semakin rendah kualitasnya, yang dapat berakibat image/citra pendidikan di Indonesia semakin rendah yang kembali semakin mendorong kurangnya minat generasi muda terhadap profesi guru/dosen.  Demikian juga dengan profesi petani/pertanian secara luas.

Dengan kecenderungan minat yang terhadap bidang pertanian bagi generasi muda terbaik, maka performa pertanian Indonesia akan semakin rendah, produk semakin rendah kualitasnya, dan citra pertanian semakin rendah. Akibatnya bangsa akan semakin tergantung terhadap impor. Duh kasihan sekali bangsa yang tidak mampu makan hasil dari lahannya sendiri dan harus tergantung produk orang lain. Semoga kelak kita tidak disadarkan pada kenyataan bahwa uang tidak dapat dimakan. 

IInilah yang sebenarnya saat ini menjadi tantangan kita bersama.  Sebagai generasi yang terpilih untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi, hendaknya kita mampu menjawab tantangan bangsa bersama.  Ini hampir serupa dengan istilah “telor dulu ato ayam dulu?”.  Menunggu perubahan? Atau kita membuat perubahan? Membuat perubahan tidak berarti harus dengan demo atau tindakan kekerasan, melainkan dengan ikhtiar kita bersama, membangun Indonesia, berjuang untuk merombak sistem yang ada.  Akan ada waktu bagi kita untuk merombak atau membangun. Semoga kelak kita menjadi agent of change di tanah air kita. 

Kita harus saling membesarkan hati, berani untuk menerima kenyataan akan suasana yang katanya kurang kondusif untuk peneliti, dosen, doktor dan professor di Indonesia.  Dengan keyakinan bahwa akan lebih hebat jika seseorang mampu perform hebat tapi pada lingkungan yang kurang optimal dibandingkan dengan seseorang yang perform baik tapi pada lingkungan yang baik (seperti tadi disinggung pada lingkungan dengan suasana kondusif untuk penelitian). Ibaratnya, jika saya diminta membandingkan dua tanaman yang sama-sama memiliki buah dengan kualitas yang hampir sama dimana tanaman pertama ditanam pada tanah gersang, kering dan tidak dipupuk  sementara tanaman kedua ditanam dalam greenhouse dengan pemupukan intensif, maka saya akan memilih tanaman yang pertama sebagai tanaman terbaik. 

Jika saya diberikan kesempatan dan kemampuan oleh Tuhan untuk menjadi yang biasa atau luar biasa dengan memanfaatkan karunia yang diberikan, maka saya akan memilih memberikan yang terbaik.

Sebuah email akhirnya cukup menyejukkan saya, dari seorang teman baru di Wageningen. Menurutnya yang paling utama adalah mensyukuri nikmat yg telah diberikan oleh Allah, karena kalo kita mau melihat ke bawah masih banyak sekali saudara-saudara kita yang hidup dengan ketidakjelasan berapa uang yg akan didapat hari ini. 

Hmmm saya mensyukuri profesi saya…  

Awang Maharijaya

4 Responses

  1. dulu waktu baru masuk WUR, ada terbersit cita2 melamar menjadi dosen di IPB.. tapi sekarang.. sepertinya harus diurungkan terlebih dahulu niat tersebut…:(

  2. Kalo menurut saya sih, biarkan saja orang-orang pintar Indonesia bertebaran di muka bumi. Selama kebangsaannya Indonesia dan mereka bangga akan hal itu, saya pikir itu baik. Minimal akan menghilangkan sedikit “cap” jelek thd Indonesia. Bahwa ternyata Indonesia tidak hanya identik dengan “pembantu” atau “teroris”.
    Kan asyik tuh kalo pas pertandingan olahraga di negara lain, yg nonton atlit kita pekerja-pekerja berpendidikan tinggi asal Indonesia……… (bukan berarti saya merendahkan pembantu loh ya?🙂 ), hanya dengan adanya pekerja berpendidikan tinggi itu maka warna Indonesia akan semakin berwarna.
    Lagipula kaum berpendidikan tinggi ini mestinya juga ladang devisa kan? Syukur-syukur kalo bisa bikin yayasan beasiswa untuk pendidikan di Indonesia.

  3. Kalaupun nantinya “orang2 pintar” asal indonesia memang enggan/gak mau pulkam…ya udah, kita perbanyak aja “orang2 pinter” jenis lain ( pinter korupsi, nipu, de el el ) agar bangsa ini cepet hancurnya. Nangis…hihihihihihihi

  4. Indonesia negeri yang banyak orang pintar , saya cuma kecewa dengan sikap sang profesor muda itu , dia maaf begitu angkuh dengan Indonesia , sesulit apapun hidup di Indonesia , ia tetaplah orang Indonesia , ia dilahirkan di bumi Indonesia .
    ya tergantung pada pilihan setiap individu , saya membebaskan , cuma ini opini pribadi saya , saya kecewa
    kita terlalu bertanya banyak pada negeri ini , menyalahkan negeri ini
    tapi apakah kita sudah bertanya apa yang sudah kita lakukan buat negeri ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: