Bisma, Kumbokarno, Wibisana, Salya, Karna.. dan seterusnya…

Judul diatas sekilas seperti cerita pewayangan. Memang betul. Nama-nama di atas adalah nama-nama tokoh pewayangan. Pada tulisan ini saya bermaksud membahas sedikit (karena pengetahuan saya mengenai wayang juga terbatas) mengenai berbagai cara pandang terhadap kecintaan seseorang kepada negaranya.

Banyak sekali cerita-cerita yang mengisahkan kecintaan terhadap tanah air. Seperti pada judul di atas. Ada banyak alasan seseorang membela negerinya, bahkan ketika negerinya sedang pada jalur yang salah (ini contoh yang ekstrim). Semoga negeri kita tidak akan sampai seperti itu.

Bisma adalah tokoh perwayangan yang memiliki kehidupan yang penuh pergolakan batin. Jika kita selami, banyak sekali perbuatan-perbuatannya yang mengisahkan kecintaanya terhadap negerinya. Bisma sebenarnya berhak atas tahta Astinapura, akan tetapi karena keinginannya yang luhur dan demi menghidari perpecahan dalam negara astina ia rela tidak menjadi raja. Kecintaan Bisma pada negerinya jugalah yang akhirnya membawa dirinya berada pada pihak Kurawa dalam perang Baratayudha dimana sebenarnya tahu bahwa Kurawa merupakan pihak yang salah. Niatnya dalam pertempuran itu adalah mempertahankan negara Astina dari gempuran musuh.

Senada dengan hal itu adalah Kumbokarno dalam cerita Ramayana. Ketika pasukan Rama dengan tentara keranya akan menyerang Alengka, Kumbokarno mengingatkan Rahwana (kakaknya) agar memilih jalan damai dengan menyerahkan Dewi Sinta. Rahwana akhirnya tidak memilih jalan damai dan memutuskan berperang dengna Rama. Dua adik Rahwana Kumbokarno dan Wibisana memilih jalur yang berbeda mengenai hal ini. Wibisana memilih bergabung dengan pasukan Rama dengan niat tidak menghianati/menghancurkan negaranya namun untuk menunjung kebenaran, sementara Kumbokarno yang dalam hatinya tidak ingin berperang, memilih berperang melawan Rama dengan niat mempertahankan negaranya berdasar sebuah prinsip yang sangat terkenal ”Right or Wrong is my Country”.

Sementara Salya dan Adipati Karna merupakan contoh seseorang yang harus mencintai negara lain karena berhutang budi. Salya bukan orang asli Astinapura, tapi karena Astina telah berjasa besar membesarkan anaknya hasil hubungan dengan ras raksasa yang dalam cerita dikisahkan merupakan hal tabu. Diam-diam Salya memasukkan anaknya yang mirip bayi raksasa ke dalam kalangan Kurawa. Burisrawa, anaknya akhirnya mendapatkan makanan, pendidikan hingga olahkanuragan yang baik di Astina. Terdorong oleh hal inilah akhirnya Salya mampu membela negara Astina. Sesuatu yang dalam benak siapapun merupakan hal yang salah.

Lain tapi hampir serupa, ialah Adipati Karna. Karna merupakan anak Dewi Kunti, sehingga sebenarnya ia adalah saudara Yudhistira, Bima dan Arjuna, serta sepupu Nakula dan Sadewa. Pada perang Baratayudha ia justru berada pada pihak musuh Pandawa. Benarkah ia tulus membela negara Astina dari gempuran Pandawa. Inilah yang kemudian menjadi menarik. Karna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah yang hampir sama dengan Arjuna. Ia juga mahir dalam berperang, namun bakatnya terperangkap dalam status sosial yang rendah, apresiasi yang rendah dan kurangnya pengakuan terhadap kemampuannya. Hal itulah yang membuatnya haus akan status yang memberikannya identitas atau penghargaan. Ketika masa kecilnya, pihak pandawa tidak mengakui dan memberikan apresiasi terhadap Karna dan justru pihak Kurawalah yang memberikan apresiasi hingga mengangkatnya menjadi Adipati maka Karna memutuskan kesetiaan untuk membela Kurawa dan negeri Astinapura, meskipun dia juga tahu itu akan melukai saudara-saudaranya sendiri.

Daftar tokoh wayang di atas bisa saja bertambah, bahkan bisa diganti dengan tokoh-tokoh nasional atau tokoh dunia. Tapi setidaknya kita punya gambaran bahwa banyak alasan untuk membela negara kita (tentunya bukan pada chauvinisme yang sempit).

Sangat sulit membayangkan jika kita harus mencintai tanah air yang sedang sakit atau kurang memberikan penghargaan kepada kita (tidak kondusif untuk riset, profesi kurang dihargai, dll). Bagaimana jika kelak kita dihadapkan pada kondisi seperti para tokoh tersebut? Katakanlah misalkan kita mendapat pengakuan, apresiasi dan lingkungan yang kondusif untuk bekerja, riset, dll lebih dari tempat asal kita (tanah air), atau mendapat pendidikan dan sarana pengembangan diri yang lebih baik? Apakah kita akan melupakan tanah air kita, dan pindah membela tanah air yang lain?

Ah tidak usah terlalu dipikirkan toh itu kan di cerita wayang… hanya sebagai renungan saja, mudah-mudahan tanah air kita semakin jaya ke depan.. Amin

Awang Maharijaya
26 Februari 2008, nulis sambil menikmati opor ayam masakan sendiri (kangen masakan Indonesia)

2 Responses

  1. Mas Awang analisa sampeyan karo cerita wayang kuwi apik banget, nilai filosofi wayang sing sampeyang petani cocok banget karo kahanan Indonesia saiki, contone sing rada gampang disawang yakuwi babagan olah raga, saiki akeh pakar – pakar olah ragane awake dhewe padha hijrah marang negara manca sebabe apa??? Negara manca bisa luwih ngajeni lan ngregani kepinteran lan ketrampilane wong -wong kuwi mau, tapi ora usah kuatir lan kudu yakin ya Mas yen kapan – kapan ana rejaning jaman utawa mengko yen ana gumlegare gunung Kelud (ora mbledhos lho mung gumleger wae) hehehe…. mBlitar dadi latar yen gunung kelud mbledhos…….Indonesia bakal dadi negara kang AGUNG JAYA – JAYA GEMAH RIPAH LOH JINAWI utamane babagan AGRO-ne merga ana wong Indonesia kaya mas Awang…..heheheh

    T0n0 Sumbawa.

  2. SAK DUMUK BATHUK SAK NYARI BUMI
    Negeriku bangsa lan wutahing ludiroku hamung kanggo negaraku Indonesia jaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: