Latihan Beribadah Itu Perlu

ditulis: 16/12/2008

Sabtu dan Minggu kemaren akhirnya saya dapat kembali bermain tenis di lapangan DeBongerd untuk pertama kali setelah selama lebih dari empat bulan tidak bermain karena kesibukan riset di Indonesia dan berbagai kondisi yang kurang kondusif untuk bermain tenis di Indonesia . Senang rasanya memuaskan dahaga berolahraga sekaligus bersilaturahim dengan teman-teman baru di lapangan tenis.

Beberapa saat berlalu kemudian, saya disadarkan bahwa permainan dan skill saya menjadi jauh menurun dibandingkan empat bulan yang lalu dimana saya bahkan dapat mengalahkan mahasiswa China yang rutin berlatih. Bola tidak dapat saya pukul dengan baik, nafas setengah-setengah, lari tergopoh-gopoh, timing tidak tepat, tidak ada power, dan tidak ada presisi.

Karena penasaran, besok paginya saya coba kembali berlatih tenis dengan Bang Joni, Mas Bagus dan Mbak Alfi. Hasilnya, saya bisa kembali ‘sedikit’ menemukan kembali ‘feeling’ saya yang sempat hilang. Bahkan di akhir latihan sempat memenangkan beberapa game (hal yang tidak pernah saya dapatkan pada latihan sebelumnya). Dengan demikian, tujuan permainan tenis gagal total diraih. Sampai di kamar, badan saya panas bukan main, sehingga saya putuskan untuk beristirahat total.

Sekedar berbagi, saya merasa ada hikmah dibalik kejadian ini. Yaitu kewajiban untuk terus berlatih dengan perbaikan yang berkelanjutan (continuous improvement). Jika kita coba renungkan banyak sekali kemampuan dari diri kita yang tanpa kita sadari memerlukan proses belajar dan berlatih. Ada kemampuan yang tanpa kita sadari terus kita latih misalkan kta berlatih berdiri, berjalan, berlari hingga melompat (otomatis). Ada juga kemampuan yang kita latih dengan memerlukan niat kita yang secara bertahap dan memerlukan waktu yang lama. Misalkan dimulai dari berlatih membaca, menulis, berhitung hingga pada akhirnya muncul kemampuan berdagang. Apakah cukup kemampuan berdagang saja? Tentu tidak, agar lebih baik diperlukan kemampuan statistik, manajemen dan ilmu konsumen misalkan.

Dari sedikit penjelasan di atas manusia dapat dinyatakan merupakan makhluk belajar dan berlatih sepanjang hayatnya. Ayat-ayat pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad adalah perintah membaca dan menulis. Perintah ini sudah jelas bahwa betapa pentingnya membaca dan menulis bagi umat manusia. Berlatih itu sendiri juga pada hakekatnya adalah membaca. Membaca pada hakekatnya adalah belajar.

Kembali kepada kemampuan manusia, tentunya ada hal-hal yang memang dipengaruhi secara genetik. Misalkan kemampuan lari cepat yang didukung oleh bentuk kaki yang panjang. Namun demikian sebagian besar tentunya ditentukan oleh niat atau kemauan manusia itu untuk belajar dan berlatih. Misalkan orang yang berkaki pendek belum tentu lebih lambat dari seseorang yang berkaki panjang.

Jika kita kembalikan kepada hakekat penciptaan manusia seperti firman Allah: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribah kepada-Ku”, maka pertanyaannya adalah kemampuan beribadah itu diturunkan secara genetik atau tidak? Tentunya jawabannya adalah lebih banyak tidak. Seorang anak yang lahir dari keluarga haji belum tentu akan bagus ibadahnya, dan sebaliknya seorang anak yang lahir dari keluarga penjahat belum tentu tidak bagus ibadahnya.

Bagaimana proses latihan beribadah kita? Mari kita ambil sedikit saja contoh dari ibadah wajib kita yaitu sholat. Kita semua tahu bahwa tujuan sholat adalah agar kita bisa mencegah diri dan orang lain dari perbuatan keji dan mungkar. Untuk sampai ke tujuan tersebut tentunya kita harus belajar dan berlatih. Kita belajar dari mulai niat, gerakan, dan bacaan (sewaktu kita kecil). Kemudian berangsur-angsur kita berlatih memahami arti bacaan sholat. Terus menerus hingga memahami makna yang terkandung dalam bacaan sholat dan menerapkan/mengamal kannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita ingat bahwa sholat itu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar, maka tolak ukur keberhasilan kita sholat adalah jika kita mampu menjegah perbuatan keji dan mungkar. Dengan demikian, jika kita melihat ada orang yang melaksanakan sholat tapi masih melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama termasuk keji dan mungkar, maka belum berkualitaslah sholatnya karena belum mencapai tujuan sholat. Masih banyak umat Islam yang terbelenggu dalam kegiatan keji dan mungkar.

Demikian pula dengan ibadah-ibadah lainnya. Semuanya bertujuan untuk melatih kita agar kita dapat mencapai tujuan hidup kita sebagai seorang muslim, yaitu menjadi orang yang bertaqwa. Allah selalu melatih kita, agar kita dapat mencapai tujuan kita yaitu menjadi orang bertaqwa. Kita dilatih dalam bentuk syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.

Kembali kepada skill tenis saya yang hilang tadi. Tentunya jika saya ingin kembali meraih hasil yang maksimal, misalnya mengalahkan juara Piala Kemerdekaan (baca: Pak Hady), maka saya harus berlatih lebih giat lagi, karena tujuan permainan tenis yang sebenarnya adalah untuk memenangkan game. Kecuali kalau maen tenisnya hanya bertujuan sekedar senang-senang dan menambah pengalaman saja.

Jika dianalogikan dengan skill beribadah, tentunya kita tidak boleh berhenti berlatih beribadah. Saya pribadi mengakui kualitas ibadah saya masih naik turun.

Kembali analogi dengan skill tenis tadi tentunya saya tidak dapat mengembalikan skill saya tanpa bantuan Bang Joni dan Pak Hady sebagai yang lebih menguasai ilmu tenis. Dengan demikian, mari kita bersama tingkatkan kualitas Ibadah kita, secara terus menerus hingga mencapai tujuan yang sebenarnya. Yang lebih mumpuni mau berbagi, mengingatkan, dan menasehati. Sebaliknya yang merasa kurang tidak malu untuk meminta. Mari kita perbaiki niat kita. Mari kita bersihkan hati kita. Mari kita perbaiki perilaku kita. Mari kita instropeksi dan bertobat.

Kesalahan utama saya sehingga skill tenis saya hilang adalah karena saya membiarkan diri saya untuk tidak berlatih dengan alasan lingkungan dan keadaan yang tidak mendukung (di Indonesia). Mari kita hindari kesalahan ini dengan tidak membiarkan diri kita tidak berlatih di tempat yang kurang kondusif (misalkan di Belanda), sehingga kualitas beribadah kita menjadi berkurang. Hal kecil yang dapat kita lakukan, taruhlah meskipun tidak ada mushola, mari kita galakkan sholat berjamaah.

Mari kita terus berlatih dengan giat bersama-sama, kecuali kalo ibadahnya hanya bertujuan sekedar senang-senang dan menambah pengalaman saja. Peace!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: